Unforgettable Past

Aku berjalan melewati lorong sendirian. Aku merasa sangat asing disini. Kucoba melihat keadaan dan orang-orang disekitarku. Nihil! Aku tak berhasil menemukan siapapun. Dengan sedikit keraguan aku pun terus melangkahkan kakiku.
Kulihat sebuah bangku dibawah pohon yang masih kosong. “syukurlah, aku akan istirahat disana.” Kataku kemudian dan kakiku membawaku menujunya.
Lingkungan baru, teman baru, kebiasaan baru, semua baru. Aku berharap semua akan berjalan sesuai dengan keinginanku. Aku akan segera menyesuaikan diriku pada lingkungan ini.
Sambil bersandar di batang pohon, aku melamunkan teman-teman lamaku, aku belum mendapat kabar dari mereka tentang sekolah mereka yang baru. Mungkin mereka sedang sibuk menyiapkan semuanya, jadi aku akan menunggu mereka saja, aku tak mau mengganggu mereka.
~~~
“Pagi vi.. apa kabar?” bunyi pesan yang sedang kubaca. Ya, ini adalah pesan dari Miky.
Aku bingung akankah aku harus membalasnya atau tidak. Aku tidak begitu yakin untuk membalas pesannya. Akhirnya kuputuskan untuk menghiraukannya.
Sudah beberapa hari aku tak bertemu Miky, rindu pun tak dapat kuhindari. Sepi tanpanya membuat hariku seolah berjalan lebih lama. Kini aku tak dapat lagi melihat tingkah gilanya. Tak ada lagi yang menegurku ketika aku melakukan salah. Tak ada lagi yang mengingatkanku untuk makanlah, obatlah, apalah. Yang velas nggak ada lagi yang ngomel gara-gara aku nggak mau makan.
“Micha, sudah lama kita tak berjumpa. Bagaimana dengan sekolah barumu? Pasti menyenangkan bukan? Jangan lupa makan, sholat, jaga kesehatan baik-baik ya!” pesan masuk dari Miky.
“Ya cukup menyenangkan, meski terkadang banyak tugas membuatku cepet pusing. Bagaimana dengan kamu? Iya, aku pasti melakukannya. Kuharap kamu juga begitu.” Balasku.
“Aku juga merasakannya. Tak jarang aku merasa kewelahan dengan tugas yang ada, tapi apa daya? Jalani aja, semua butuh proses. Jadi ya semua kulalui dengan santai. Bagus deh.. J” balasnya lagi.
“Musim hujan sudah mulai, kamu jangan suka hujan-hujan. Kalau mau pergi bawa mantel! ” ingatku.
“Iya.. Kamu jangan terlalu lama berada di teras saat hujan, sebaiknya kamu masuk rumah. Hawa dingin nggak bagus. Aku nggak mau kamu sakit.”
“Iyaa.. terimakasih telah mengingatkanku.” Balasku.
“Kembali kasih. J “ jawabnya.
Endchat! Setelah itu aku tak tau lagi harus membalas apa. Ku fikir itu cukup.
Aku merasa aku dan Miky semakin jauh. Memang kita pernah berjanji untuk kembali jadi sahabat setelah kejadian itu. Kita akan tetap bersama, masih saling berbagi, saling mengingatkan. Tapi apa sekarang yang terjadi? Janji telah hilang bersama dengan waktu yang terus berjalan. Jarak yang ada semakin nyata.
“Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi, mungkin ini adalah takdir Tuhan.” Kataku dengan sangat pelan. “Ah bukannya takdir dapat kita patahkan dengan usaha kita? Tapi, mau usaha apa coba? Udah cukup mungkin. Yaudahlah..”
“Hai Mic! Kamu ngapain diem aja?” tanya Ave, teman sebangkuku.
“Nggak papa Ve. Hehe..” jawabku dengan cengiran.
“Laper nih, kantin yuk?” ajak Ave.
“Kebetulan, aku juga laper nih. Tapi aku bawa bekal. Gimana dong?” tanyaku.
“Bawa aja. Ntar kamu bisa makan disana, pesen minum sana kan nggak papa.” Jawab Ave.
“Oke.”
Kami berjalan ke kantin dengan irigan percakapan santai.
“Aku nitip pesan es susu dong Ve. Sekalian gitu. Hehe..” kataku saat sampai di kantin. “Aku tunggu disini.” Lanjutku sambil duduk disalah satu meja.
“Iya.” Jawab Ave sambil mengedipkan sebelah mata.
Ku buka kotak makanku. Seperti hari biasanya, aku selalu membawa bekal untuk makan siang. Menu makan siang hari ini adalah roti panggang rasa coklat buatan ibuku.
“Tumben nggak bawa nasi?” tanya Ave sedikit membuatku kaget.
“Dibuatinnya ini, yaudah bawa aja. Bosen juga sih tiap hari makan nasi.” Jawabku enteng.
“Enaknya jadi kamu, bekal udah disiapin.”
“Apasih? Kamu tau sendiri kan aku nggak bisa makan sembarangan?”
“Iya sih Mic. Semangat ya! Pasti sembuh.” Kata Ave.
“Amin.. Makasih Ve.” Jawabku sambil tersenyum.
Tak selang lama pesanan Ave pun datang. Tanpa berlama-lama lagi, Ave menyantap makanannya.
“Mic.. Sebenernya kamu tuh sakit apa sih?” tanya Ave ditengah-tengah ia makan.
“Cuma fertigo kok.” Jawabku.
“Fertigo bukan masalah sepele tau, kalo nggak diurus bisa jadi kanker otak.”
“Tenang, kamu tahu sendiri kan aku gimana? Makan aja bawa bekal terus. Ini udah masa penyembuhan kok.” Kataku.
“Kamu tuh ya, selalu nutupin apa yang kamu rasakan. Kamu nggak pernah mau orang lain tau apa yang sedang kamu rasakan. Sesakit apapun kamu coba buat nutupinnya. Salut sama kamu Mic.” Kata Ave serius.
“Aku cuma nggak mau oranglain susah gara-gara aku. Aku mau mereka selalu nyaman ketika sama aku. Itu aja.”
“Tau nggak? Dari pertama aku kenal kamu, aku udah nyaman sama kamu. Kamu bisa tuh bisa nempatin diri kamu dengan baik. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini kamu beda. Ada masalah apa? Cerita aja, aku akan berusaha membantumu.”
“Aku nggak papa kok Ve. Mungkin hanya perasaanmu aja.” Jawabku.
“Jangan bohong! Aku tau bagaimana kamu, kamu nggak mungkin begini kalo kamu lagi nggak ada masalah. Cerita aja.”
Aku tak tahu lagi harus bagaimana menutupinya, semakin kucoba menutupinya, Ave akan semakin curiga. Akhirnya pada saat itu aku menceritakan semuanya. Ave mendengarkan setiap cerita dengan baik. Ia memberiku masukan-masukan. Aku merasa nyaman dengan dia. Dia adalah sahabat pertama di sekolah baruku ini.
“Jangan pernah anggap bahwa kamu selalu kuat, kamu selalu dapat menyelesaikan masalahmu sendiri. Seberapa kuat cewek untuk melawan masalahnya, ia pasti akan menemukan titik lemahnya. Dan kau butuh oranglain untuk membuatmu bangkit lagi!” kata Ave.
“Thanks Ve.”
“Balik kelas yuk? Tambah rame nih.” Ajak Ave.
~~~
Lagu The Power of Love mengiringi perjalananku pulang. Headset yang kupasang akan memutakan lagu-lagu tentang aku dengan dia. Lagu yang sangat kurindukan kuputar bersama dia.
“Assalamualaikum.. Micha pulang.” Kataku saat masuk rumah. “Kenapa nggak ada yang jawab ya?” tanyaku pada diri sendiri. “Mungkin ibu dihalaman belakang.”
       Aku berjalan menuju kamar tidurku, kemudian berganti pakaian dan membereskan keperluan yang baru saja kubawa sekolah. Setelah semua selesai, aku mengecek Hpku. Ternyata ada sebuah email masuk. Email itu dari Chaca, sabahatku SMP. Dia memberi tahuku bahwa besok ia tak bisa datang ke acara makan malam bersama keluargaku dalam acara ulang tahunku karena dia sekarang tinggal bersama neneknya di luar kota. Aku sedih, namun tak apa. Ada Ave yang akan menemaniku besok.
       “Ibu.. Ibu dimana?”
       “Ibu baru ke tempat temennya sayang, ada apa?” tanya ayah.
“Ayah udah pulang?” tanyaku kaget.
“Hari ini ayah nggak ada meeting, jadi ayah bisa pulang awal.” Jawab ayah santai. “Sini ayah mau bicara.”
       “Apa yah?” tanyaku saat telah duduk disamping ayah.
       “kalau besok ayah nggak bisa ikut makan malam bareng, Micha marah nggak sama ayah?” tanya ayah.
       “Emang ada apa yah? Ayah besok harus lembur lagi ya?” tanyaku dengan hati yang sedikit kecewa.
       “Sepertinya begitu. Maaf ya sayang..” ucap ayah sambil mengelus kepalaku.
       “Kalau emang ayah sibuk, nggakpapa kok yah.” Jawabku dengan senyum yang kupaksakan.
       Ayah tak menjawab apapun. Kemudian kami memilih untuk diam.
       “Yah.. besok Chaca nggak bisa kesini, tapi aku bawa temen baru aku yah. Dia juga baik banget, sama baiknya kayak Chaha. Namanya Ave yah. Boleh kan yah?” tanyaku.
       “Boleh sayang, itu kan harimu. Kamu bebas ngajak siapapun, tapi jangan lupa bilang ke ibu, biar ibu nyiapin makanannya pas.” Saran ayah.
       “Iya yah..”
       “Assalamualaikum..” ibu datang.
       “Walaikumsallam..” jawabku dan ayah bersamaan.
       “Micha ke kamar dulu ya yah, sepertinya HP Micha ada telefon masuk.” Kataku sambil berdiri kemudian sedikit berlari ke kamar.
       Kulihat tak ada telephon/pesan masuk, mungkin tadi hanyalah sugesti saja.
       “Micha..” pangggil ibu didepan pintu kamarku.
       “Masuk bu, nggak Micha kunci kok.” Kataku dari ranjang tempat tidur.
       “Obat udah diminum?”
       “Udah kok bu. Kenapa?”
       “Micha sibuk nggak hari ini?” tanya ibu.
       “Enggak bu, ada apa?”
       “Temenin ibu belanja untuk besok ya?” pinta ibu.
       “Tentunya bu. Jam berapa?” tanyaku.
       “Yang penting sekarang kamu mandi, terus siap-siap. Ibu akan siapkan makan untuk makan malam, jadi nanti setelah pulang tidak terlalu ribet.”
       “Iya bu.”
~~~
       “Besok kamu pengen masakan apa?” tanya ibu.
       “Terserah ibu aja, tapi aku pengen besok ada seefood bu.” Jawabku.
       “Temenmu alergi seefood ngga?” tanya ibu lagi.
       “Dia suka banget bu, jadi aku mau seefood ya gara-gara Ave.” Jawabku.
       “Menu selain seefood apa lagi? Mau dissert apa?” tanya ibu.
       “Sisanya terserah ibu aja.” Jawabku.
       Tak lama taxi yang kami tumpangi sampai di mall yang kami tuju. Disini kita akan berbelanja sedikit pakaian dan sepatu untukku, dan juga ibu akan membeli bahan untuk besok.
       “Ibu mau pisah aja atau gimana?” tanyaku.
       “Pisah aja ya sayang, kamu pasti nanti akan mutah kalau ikut ibu belanja seefood.” Jawab ibu. “Uang buat kamu belanja udah kan?” tanya ibu.
       “Udah kok bu. Daa ibu.. nanti Micha telfon ya.”
       Sebelum ibu menjawab akutelah membalikkan badan dan berjalan menjauhi ibu. Hari ini aku ingin membeli sepatu kets warna abu-abu kombinasi pink. Namun aku juga pengen highthills warna biru tua. Aku bingung memilih mana, alhasil aku mencari dress untuk besok malam. Dress sederhana warna putih.
       Setelah mendapat dress yang aku mau, aku menuju toko sepatu. Aku masuk ke salah satu toko sepatu kets. Banyak model dipamerkan pada toko tersebut. Aku semakin bingung untuk memilih. Aku membawa 2 model sepatu yang berbeda, aku suka dengan keduanya, tapi aku harus pilih satu.
       “Butuh bantuan Mic?” tanya seseorang mengagetkanku.
       “Miky?”
       “Hei.. kamu butuh bantuan?” tanya Miky.
       “Iya nih, aku bingung pilih mana. Sebenernya pengen antara kets ini sama highthills yang warna darkblue. Tapi karena aku nggak nemuin highthills, jadi aku pilih ini, eh disini dibuat bingung sama /kedua sepatu ini. Menurutmu mana yang bagus?” tanyaku.
       “Kalo yang kombinasi biru kamu udah punya kan?” tanya Miky.
       “Iya sih..” jawabku.
       “Ambil aja yang kombinasi pink, itu bagus juga kok.” Saran Miky.
       “Yaudah.. makasih ya Mik. Aku bayar ini bentar.” Kataku.
       “Aku tunggu disini.” Jawabnya.
       Tanpa basa-basi aku segera menuju kasir untuk membayar sepatuku. Kemudian balik untuk menemui Miky.
       “Hey.. udah?” tanya Miky.
       “Udah.”
       “Karna aku udah nunggu kamu, sekarang temenin aku buat makan, laper nih.” Ajak Miky sambil menarik belanjaan dari tanganku dan menggandeng tanganku. “J-co mau?” tawar Miky.
       “Boleh.” Jawabku.
       Kemudian kita berjalan menuju lantai dasar untuk membeli makan disana.
       Aku disuruh Miky untuk duduk, sedangkan ia memesan makanan. Sessat kemudian dia telah datang membawa makanan yang aku suka. Tanpa ia bertanya lagi, ia sudah tau apa yang aku mau.
       Tak ada obrolan selama kita makan, menikmati donat ditemani alunan musik.
       “Kamu sekarang gemukan..” kata Miky membuka pembicaraan.
       “Apa? Masak? Boong ah?!” tanyaku tak percaya.
       “Hehe enggak.. gitu aja paniknya minta ampun. Ternyata masih nggak berubah ya?”
       “Hehe.. kamu kesini sama siapa?” tanyaku. Sesaat setelah itu aku teringat bahwa aku sama ibu.
       “Tadi sama temen, sekarang dia lagi belanja.”
       “Cewek?”
       “Iya, temen sekelas.” Jawab Miky.
       “Loh kok kamu tinggal?” tanyaku lagi dan mencoba sebisaku menutupi sakit hatiku.
       “Habisnya dia lama, aku keburu laper, yaudah aku duluan deh makan” velasnya.
       “Kamu jangan gitu dong, kasian dia.”
       “Nggak papa kok, dia juga memintaku buat makan, karena dia tadi udah makan sebelum kesini.” Velasnya lagi.
       “Yaudah itu terserah kamu, tapi aku harus pergi sekarang, aku harus mencari ibuku.”
       “Oke, hati-hati ya!”
       “Kamu juga hati-hati ya, jaga temenmu juga!” pesanku.
       Jujur aku senang ketika melihatnya hari ini, namun hatiku terasa teriris ketika lihat tau bahwa dia tak sendiri. Ia bersama temannya.
       “Halo.. Ibu dimana?” tanyaku dalam telepon.
       “Ibu masih di supermarket. Sini deh susul ibu, ibu di bagian buah. Ibu tunggu ya!” jawab ibu.
“Ya bu..”
Tanpa menoleh ke arah Miky, aku pergi begitu saja. Aku tak mau melihat dia tahu bahwa aku terluka. Aku mau dia tahu bahwa aku baik-baik saja.
Ketika kususul ibu, aku melihat ibu dengan troli belanjaan yang sangat penuh. Aku heran kenapa ibu belanja banyak hari ini, padahal besok makan malam hanya untuk 3 orang. Lalu belanjaan sebanyak ini untuk apa? Yaudah sih ya, terserah ibu.
Ketika dirasa tak ada yang kurang, ibu mendorong belanjaannya menuju kasir, aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Pak Taksi!” panggil ibu pada salah satu taksi yang sedang melaju pelan di depan mall.
       Sepertinya sopir telah banyak tahu tentang isyarat orang memanggilnya,meski dengan gaya yang berbeda-beda. Taksi itu akhirnya berjalan ke arahku dan ibu.
Sesampaiya di rumah, pak mardi, suami mbok nah, orang yang bekerja dirumh kami pun datang membantu mengeluarkan barang belanjaan. Beliau membawa semua barang kedapur atas komando ibu.
Aku pun langsung menuju kamar untuk berganti baju dan cuci tangan, kaki serta membersihkan mukaku.
“Ah sial! Sepatuku nggak ada! Apa ketiggalan di taksi ya? Atau di supermarket ya?” kataku pada diriku sendiri. Karena sudah kucari berkali-kali aku tak menemukannya, akhirnya aku tanya pada ibu. “Ibu tadi lihat belanjaanku nggak? Tas sepatuku nggak ada.” Aduku pada ibu.
“Ibu nggak lihat nak, coba cek di belanjaan ibu!”
“nggak ada bu.” Jawabku sambil manyun.
“Emang sepatu yang mana?” tanya ibu.
“Yang barusan Micha beli. Tadi aku bawa bareng sama dress, tapi barusan aku cek Cuma ada dress aja buk.” Rengekku. “Terus gimana bu?”
“Yaudah ikhlasin aja, mungin itu belum rezeki kamu, kalau emang itu rezeki kamu, pasti akan balik. Kamu tenang ya! Sekarang kamu makan aja sana!”
“Aku udah makan buk, tadi nggak sengaja ketemu temen smp, yaudah makan bareng sekalian.” Jawabku.
“Yaudah kalau gitu. Istirahat aja! Jangan lupa minum vitamin! Kalau mau minum susu panggil aja mbok Nah ya!”
“iya buk..” jawabku kemudian menuju kamarku.
Apa yang ibu perintahkan untuk kulakukan malam ini kuturuti, aku segera menuju kamarku untuk istirahat, tak lupa aku meminum vitaminku kemudian susuku. Sebelum aku memejamkan mata, kusempatka untuk menghubungi Ave untuk datang besok malam ke rumahku untuk makan malam bersama keluargaku. Ia mengiyakan apa yang aku mau. Dia memang sahabat baikku. Saatnya istirahat.
Malam ini tepat pukul 00.00 WIB , handphoneku berbunyi. Entah siapa tengah malam seperti ini yang menelphoneku, mungkin penting fikirku, sehingga aku mengangkatnya.
“Hal..”
“Happy b’day to you, happy bday.. happy bday.. happy bday to you..” suara diujung telphone, suara yang sangat aku hafal. Tak pernah berubah. Miky.
“Selamat ulang tahun Micha! Tamba dewasa, sayang sama orang tua, more better. Harapan dan cita-cita semoga terwujud, aminn.. sekali lagi selamat ulang tahun!” lanjut Miky.
Sungguh aku terkejut, dia adalah pengucap pertama di hari ulang tahunku yang ke-16 ini. Aku bahkan tak menyangka bahwa dia adalah pengucap pertamaku. Aku fikir dia telah lupa tentang hari ulang tahunku. Ternyata aku salah.
“wow! Makasih Mik.. Amin...” responku terkejut meski dengan mata yang masih berat.
“Kamu pasti kagetkan?” tanyanya.
“Hehe iya. Habis tengah malem gini nelphon, kirain kan ada emergency.” Jawabku asal.
“Maaf, kamu udah tidur ya?” tanyanya lagi. “Maaf deh udah ganggu kamu.”
“Enggak papa kok. Hehe.. sekali lagi, makasih ya?” ucapku.
“Makasih mulu? Pesta kapan nih?” tanya Miky.
“Besok malem sih mua makan malam gitu, tapi sama keluarga aja. Kamu mau gabung?” tawarku.
“Eits... Kalo sama keluarga kamu aja sih aku masih canggung. Enggak deh. Makan diluar bareng dong. Yaaa?? Sekali-kali. Semenjak kita beda sekolah kita nggak pernah ketemu loh, apalagi makan bareng lagi.”
“Maksa nih?” tanyaku dengan nada serius.
“Iyalah.”Jawabya enteng.
“Yaudah deh. Asal jangan malem, kalau malam tentu aku tak dapat izin.”
“Oke! Aku vemput besok pagi ya! Em... jam 9 pagi lah. Oke? Sip!”
“Iya bawel.” Jawabku sedikit kesal.
“Maaf udah ganggu istirahatmu. Selamat istirahat lagi tembem.” Katanya.
“Iya gapapa. Makasih ya.. night!”
“Night too.”
Klik! Percakapan kami pun berakhir.
Beberapa menit setelahnya aku susah untuk memejamkan mataku kembali. Mungkin karena aku terlalu bahagia di menit pertama usia 16 ini? Entahlah. Ahirnya ku putuskan untuk menghubungi Miky lewat bbm, mungkin ia belum tidur.
“Mik..”
Beberapa detik kemudian pesan yang kukirim telah terkirim. Timbul perasaan waswas menunggu balasannya.
10 menit telah berjalan, namun ia tak kunjung membalas bbm dariku. “Ah mungkin ia sedang mengerjakan sesuatu.” Pikirku.
Hampir setengah jam tak ada balasan masuk. Aku mulai menyerah. Kucoba pejamkan mataku, namun aku tetap gagal. Kucoba mendengarkan musik dari hpku, namun aku masih gagal.
Aku menyerah. Kuambil novel yang terakhir aku beli, kulanjutkan bacaku. Tak lama mataku kembali merasakan kantuk. Tepat jam 01.00 aku kembali tidur.
~~~
       Cahaya mentari memaksakan dirinya masuk lewat sela-sela vendelaku membuatku memaksakan diri untuk membuka mata.
Ku lihat jam di kamarku telah menunjukkan jam 8. “Ya Tuhan! Aku bangung siangan. Dan satu jam lagi aku akan divemput Miky.” Gumamku. Tanpa berfikir panjang lagi, aku bangun dan keluar kamar. Tak ada siapapun orang dirumah.
Aku berjalan menuju dapur, ibu meninggalkan surat di pintu kulkas. “Ibu harus pergi ke rumah teman, ayah ada meeting dari pagi, mbok Nah dan Pak Mardi harus pulang karena kerabatnya ada yang meninggal. Kalau kamu mau makan, delivery saja, uang kamu bisa ambil di tempat biasa.”
“Yaaah.. jadi aku akan dirumah sendiri sampe sore. Yeah! Pasti membosankan.” Sambil mengambil air minum. “oiya! Miky sebentar lagi akan vemput.”
Kubersihkan tubuhku. Hari ini aku bingung akan pakai baju apa. Miky tak memberi tahuku akan makan dimana.
“Pakai baju santai aja. Seperti dulu waktu kamu pergi sama aku ketika ke taman buat ngerjain tugas.” Bunyi smsnya.
“Baiklah..” kataku sambil melemparkan Hpku ke ranjang tidur.
Kugunakan celana pendek diatas lutut warna darkblue dengan kaos panjang warna putih. Dan kubiarkan rambutku bergerak bebas. Tak lupa sedikit bedak untuk wajahku. Cukup.
Ting tong! Bel rumah berbunyi.
“Miky” pikirku. Tanpa basa-basi kubuka pintu rumahku.
”Mau masuk dulu?” tanyaku pada Miky.
“Kalau kamu belum siap aku akan tunggu kamu didalam, tapi kalau kamu udah siap, sepertinya aku nggak usah masuk. Terlalu lama. Matahari keburu terik.” Velasnya.
“Okay.. kalo gitu aku ambil HP sama tas dulu ya.” Pamitku.
“Eits.. gausah bawa tas. Aku jamin kamu bakalan ribet kalau bawa tas. Udah gini aja. Kamu cukup bawa HP buat jaga-jaga kalau ada yang hubungin kamu.”
“Oke. Bentar ya!”
“iya..”
~~~
“Kita mau makan dimana sih? Aku udah laper nih.” Keluhku.
“Kita cari bubur ayam dulu aja ya. Tempat tujuan kita masih jauh. Aku nggak tega lihat kamu kelaparan seperti ini.”
“Iya.”
Tak lama kemudian Miky menghentikan motornya di taman. Ya memang disini pada hari minggu seperti ini selalu ramai pengunjung dan penjual makanan. Kebanyakan pengungjung  melakukan olahraga disini.
“Mau minum apa? Susu coklat hangat?” tanya Miky.
Kuanggukan kepalaku. Dan Miky kembali untuk memesan bubur untuk sarapan kita pagi ini.
Miky kembali dengan kedua tangan membawa pesanan.
“selamat makan..” katanya.
“Makasih..” jawabku.
Bubur ayam disini terkenal enaknya. Tak jarang heran kalau warung ini selalu ramai pengunjung.
“Kita mau kemana sih?” tanyaku.
“Lihat saja nanti. Nikmati prosesnya.” Jawabnya enteng. “Yuk.. keburu panas” lanjutnya.
Kuulurkan tanganku dengan maksud supaya Miky membantuku untuk berdiri, ternyata Miky masih seperti yang dulu. Dia hafal apa yang akan aku lakukan. Ini salah satu kebiasaanku. Aku suka malas berdiri setelah aku duduk.
“Kamu nggak berubah ya..” katanya pelan.
“Apa?”
“Ah enggak. Cuma bilang kamu tambah berat.” Jawabnya bohong.
‘Kamu juga nggak berubah Mik, masih sama seperti dulu. Kamu masih seperhatian dulu, meski aku sekarang bukan milikmu lagi.’ Ucapku dalam hati.
Perjalanan yang lumayan panjang telah kita lewati, Miky bilang tak akan lamalagi kita akan sampai ke tujuan.
“Sekarang turun biarkan motorku ku titipkan disini, kita jalan ke tempat tujuan kita.”
“Jalan kaki? Jauh nggak?” tanyaku.
“lumayan jauh sih, tapi aku jamin kamu nggak akan bosen. Percaya deh!”
“Oke. Emang ada tempat makan disini? Kayaknya enggak deh.”
“Udah deh kamu nurut aja. Yuk!” sambil menarik tangan kananku.
Aku tak bisa melepas genggamannya. Tangannya menggenggamku sangat erat. Jujur, meskipun aku mencoba melepasnya, namun hati kecilku nyaman ketika berada posisi ini.
“Kayaknya kita udah jalan jauh, tapi kapan nyampe sih Mik?” aku sudah mulai kelelahan.
“Udah deh, jangan ngeluh terus. Mau istirahat dulu?” tanyanya.
“Percuma istirhat, aku nggak bawa minum.” Keluhku lagi.
“Aku bawa kok, aku udah siapin semua buat kamu. Nih minum!” sambil mengulurkan sebotol air putih.
“Makasih Mik..” kuminum air putih yang ia berikan. “Baru sadar ternyata pemandangan disini indah ya..”
“Yah baru nyadar? Makanya jangan ngeluh terus!”
Klik! Kamera pun telah menangkap cahaya dengan baik.
“Miky!!! Hapus nggak?!” teriakkku.
“Nggak! Sumpah kamu lucu banget.”
“Aaa velek banget, nggak ah. Hapus!” perintahku.
“Enggak mau Micha tembem. Lihat deh! Pipimu tembem banget.” Kata Miky sambil melihatkan fotoku.
“Eits.. aku tembem bangeeeet...”
“Iya, tembeeeemmmmmm” sambil mencubit pipi kananku.
“aaaa! Sakit Mik!”
“Habis kamu gemesin, yaudah aku cubit aja.”
“Nyebelin ih..” protesku.
“Maaf..” sambil mengelus pipiku dan menatap mataku tajam. Seketika aku tak dapat melakukan apapun. Aku diam terpaku menatap bola matanya.
“Yukk lanjut perjalanan! Inget ya, kamu nggak boleh ngeluh!”
“Enggak!” tolakku.
“Terus mau ngapain? Masak kita udah jalan sejauh ini tapi kamu minta kita buat balik?”
“Jangan potong dulu dong. Aku nggak mau lanjut perjalanan sebelum kita foto dulu. Hehe..” jawabku.
“Dasar! Kamu aja ya yang aku foto?” tawar Miky.
“Enggak mau, aku maunya kita yang foto.” Jawabku.
“Lah terus yang fotoin siapa?” tanya Miky lagi.
“Kamu kan bawa Threepot.” Jawabku enteng.
“Oiya. Tunggu bentar ya!”
Beberapa foto berhasil kami abadikan disini. Tingkah kinyol kami telah disimpan dalam memori, memori fikiranku dan kamera kesayangan Miky.
Terik mentari mulai menyiksa kulitku, dan kami baru saja sampai tempat tujuan. Tempat ini masih benar-benar sepi. Alam masih sangat bersahabat. Kita bisa melihat perkotaan dari sini. Dapat melihat alam buatan Tuhan yang permai. Ilalang yang tumbuh tinggi menambah keindahan disini.
Berbagai moment berhasil kami abadikan disini. Berdiri ditengah-tengah ilalang sangatlah mengasyikkan. Angin berhempus cukup kencang. Ilang yang ada bergerak bersama angin.
“Kamu kedinginan?” tanya Miky.
“lumayan, bersyukur masih ada panas.” Jawabku.
Miky melepas jaketnya, “Pake nih!” sambil mengulurkan jaketnya kepadaku.
“Kamu pake aja! Kamu kan Cuma pake lengan pendek.”
“Micha.. jangan ngeyel dong! Aku nggak mau kamu bentol-bentol karena kedinginan. Pake ya!” sambil mengenakan jaket di punggungku.
Aku tak tau harus menolak dengan cara apa lagi. Dia pasti begini, mengorbankan dirinya untukku, sejak dulu.
“Boleh pinvem bahu?” tanyaku.
Tanpa memberi jawaban, ia langsung mendekatkan dirinya kearahku. Menyediakan bahunya untukku.
“Aku capek Mik.” Kataku.
“Aku juga capek, tapi ya inilah jalannya. Kita harus hadapi semua sama-sama, meski sekarang kita tak satu.”
“Tapi kita akan selalu sama-sama kan?” yakinku.
“Ya, kita akan terus sama-sama. Aku akan mencoba selalu ada untukmu.” Menggenggam tangan kananku.
“Aku pegang janjimu.”
Detik seolah berjalan lebih cepat ketika aku bersamanya. Sekarang mentari telah tepat berada diatas kepala kami. Terik yang cukup membuat kulit kami terbakar.
“Balik yuk? Aku laper nih” ajak Miky.
“Boleh.”
Miky membereskan barang-barang yang ia bawa hari ini. Tak lupa kamera kesayangannya. Ia selalu membawa kameranya ketika bersamaku, dan karena Miky lah, aku jadi mengerti dan tertarik akan dunia fotografi.
Jalan kaki menuju tempat penitipan motor sangat aku nikmati, suguhan alam yang indah membuatku lupa akan rasa capekku. Ada miky disampingku seoah menjadi obat dari rasa lelahku.
Entah sekarang aku akan dibawa kemana lagi, aku tak tau apa yang akan ia tunjukkan untukku.
“Makan apa aja mau?” tanya Miky.
“Mmm.. yaudah nggakpapa.” Jawabku sedikit tak yakin.
“Sakitmu tak akan kambuh/lebih parah, semua akan baik-baik saja.” Kata Miky mencoba menenangkanku.
Dari mana Miky tau? Bahkan aku tak pernah cerita kepadanya, aku hanya cerita sama Ave. Namun aku tak mempermasalahkan, apa yang ia katakan, dari mana ia tahu. Bagaimanapun juga, suatu saat ia akan tahu. Meski bukan dari mulutku. Ini hanyalah masalah waktu, entah kapan waktu akan mengikat rahasia itu. dan ketika waktu telah bosan untuk menjaga, maka semua akan tahu.
Kita makan di masih daerah tersebut. Tempatnya selalu membuatku tak pernah bosan. Aku selalu menikmatinya. Tak kuberikan kesempatan begitu saja, aku akan jarang kesini. Beberapa potret alam disini berhasil ku abadikan dengan kamera Miky.
“Siap untuk surprice selanjutnya?” tanya Miky.
“Yaah, aku siap!” jawabku penuh keceriaan.
“Kamu malam ini ada acara nggak?” tanya Miky lagi.
“Ada sih, nanti ada makan malam.” Jawabku bingung.
“Oke. Yuk keburu sore.”
Untuk kejutan yang selanjutnya, kita menggunakan motor sebagai transportasinya.
“Udah lama kita nggak kepantai. Dan bentar lagi kita akan sampai pantai. Masih ingat dengan jalan ini? kamu tahu kan kita akan kemana?” tanya Miky.
Seketika fikiranku melayang. Memikirkan jalan yang saat ini ku tempuh. Aku tak asing dengan jalan ini. semua masih seperti dulu.
“Ya aku tahu kita akan kemana.” Jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke sekelilingku.
“Tapi kali ini kita tak main air, aku tahu kamu tak bawa ganti. Aku tak mau kamu kedinginan,” velasnya. “Meski sebenarnya aku menginginkan itu.” lanjutnya lirih.
“Maksud kamu?” tanyaku.
“Sampai” kata Miky pura-pura tak mendengar pertanyaanku.
“Turun. Kita duduk saja disana.” Sambil menunjuk ke arah selatan.
“Lihat, senja disana. Indahkan? Aku masih ingat, kamu suka dengan senja kan?” tanya Miky.
“Ya, indah sekali. Makasih udah membawaku melihat senja. Aku sangat merindukan senja.” Kataku.
“Merindukan senja atau merindukan aku yang mengenalkanmu akan indahnya senja?” tanya Miky sambil melihatku tajam.
“Keduanya.” Jawabku simpel, masih denga pandangan lurus ke arah senja.
“Kamu tahu maksud aku meginginkan kamu kedinginan?” tanya Miky.
“Entah..” jawabku polos.
“Karena aku ingin memelukmu saat kamu kedinginan, aku ingin memakaikan jaketku untukmu. Aku ingin menggenggam tanganmu.” Jawab Miky.
“kenapa kau ingin melakukannya?”
“Karena aku masih sayang kamu, selalu sayang kamu, dan selamanya akan sayang kamu.” Ucap Miky sambil menggenggam tanganku.
Entah apa yang membuatku melakukan ini, aku menyandarkan kepalaku pada pundak Miky. Sejujurnya aku kaget dengan apa yang ia ucapkan. Antara bahagia dan bingung.
“Selamat ulang tahun Micha.” Sambil mencium keningku. “Semoga apapun yang kmau mau bisa terwujud. Kamu dapet orang yang lebih pantas buat kamu daripada aku. jangan pernah lupakan aku.”
“Makasih Mik. Biarkan aku bersandar dipundakmu, biarkan aku nyaman disini. Karena aku tahu, aku mungkin tak akan merasakan hal seperti ini lagi. Aku pasti akan merindukan seperti ini.” kataku. “Kita telah memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Kita saat ini telah punya dunia sendiri, kita telah menentukan pilihan. Semoga kita diberi jalan yang mudah untuk melewati jalan yang telah kita pilih. Semoga tak ada penyesalan di akhri. Satu yang harus kamu ingat, bahwa aku selalu sayang kamu dan aku akan berusaha ada buat kamu. Entah saat itu kita sebagai apa, yang terpenting adalah aku akan selalu ada buat kamu.”
“Dan aku akan melakukan hal sama.”
Kita sama-sama diam, larut dalam fikiran kita masing-masing. Mata kita tak akan beralih dari senja, karena kita sama-sama menyukai senja. Meski dengan bagian yang berbeda. Aku menyukai bagian senja saja, dan Miky menyukai senja dan langit malam.
“Kamu mau balik kapan?” tanya Miky.
“Sekarang. Aku nggak mau telat sampai di rumah.” Jawabku.
“Micha, kamu kedinginan?” tanya Miky.
“Aku nggak papa kok. Tenang aja. Balik yuk?”
“Beneran kamu nggak papa?”
“Ya, seperti yang kamu lihat.” Jawbaku enteng.
Pegangan ya! Kalau kamu merasa dingin, peluk aku lebih erat, kamu akan merasa lebih hangat.
Dan sepeda yang kita naiki telah melesat melewati jalan yang cukup sepi. Sesekali berpapasan dengan mobil dan sepeda motor. Pemandangan dimalam hari tampak lebih indah disini. Bintang terlihat sangat velas, dan lampu kota yang gemerlap menambah indahnya malam.
“Ini buat kamu. Sekali lagi, selamat ulang tahun.”
“Ini apa?” tanya Miky. Buka aja!” perintahnya.
“Sepatu? Bagaimana bisa ini ada di kamu?” tanyaku.
“Karna kamu meninggalkannya waktu kita makan, kamu buru-buru cari ibumu.” Jawab Miky enteng.
“Oh baiklah. Makasih Mik. Makasih juga buat hari ini.”
“Iya sama-sama. Aku balik dulu ya.”
“Eh Miky..” sapa ibu.
“Iya tante. Selamat malam tante..” sapa Miky.
“Udah lama tante nggak lihat kamu, kamu kemana aja? Kamu juga jarang main kesini sekarang. Jangan bilang kalau pertemanan kalian berhenti karena kalian pisah sekolah ya.” Pesan ibuku.
“Ibu apa sih. Miky jarang kesini karena dia sibuk bu, udah ibu masuk aja, di luar dingin.” Kataku.
“Oiya Mik, jangan pulang dulu ya! Gabung makan malam saja, kamu nggak keberatankan?” tanya Ibu lagi.
“Makan malam tante? Tapi kan ini acara keluarga, masak saya ikut? Apa enggak ganggu?”
“Kamu itu, jangan canggung gitu dong! Udah masuk sekarang. Micha.. Miky diajak masuk ya!” perintah ibu.
“Iya bu. Oh iya bu, Ave udah kesini belum?” tanyaku.
“Belum, tadi udah ibu telphon, katanya udah dijalan. Mungkin macet.”
“Oke. Makasih bu.”
“Micha kamu mandi dulu sana, Miky kamu juga mandi sekalian aja. Kalau tidk salah Micha masih menyimpan bajumu yang kamu tinggal disini.”
“Tapi tante..” potong Miky.
“Udah sana, kamu mandi di kamar mandi tamu ya, tahu kan?”
“Iya tante, makasih tante.”
Tingtong. Bel rumah berbunyi, dengan segera ibu membukakan pintu.
“Permisi tante, saya Ave, teman Micha.”
“Oh jadi ini yang namanya Ave, masuk sayang! Micha baru aja pulang habis main. Dia baru mandi. Kamu tunggu dulu ya. Sambil nunggu ayahnya pulang juga.”
“Loh? Bukannya om tidak bisa ya tante? Micha pernah crita begitu.” Tanya ave bingung.
“Itu Cuma rekayasa aja, biar buat kejuatan untuk dia.”
“Baik tante.”
“Masuk saja ke kamar Micha kalau kamu mau. Kamarnya ada di sana.” Sambil menunjukkan kamar Micha. “Tante mau mempersiapkan makanan dulu.” Pamit Ibu Micha.
“Saya ikut tante aja, bantu tante didapur.” Kata Ave.
“Kamu kan udah cantik, tante nggak mau kamu kotor. Kamu masuk saja ke kamar Micha, kamu belum ketemu diakan? Sudah sana!”
“Tapi tante..” cela Ave.
“Sudah.. ini tugas tante.”
“Baiklah tante.”
Ave terkejut didepan pintu kamar ketika melihat ada seorang laki-laki dikamar Micha. Setahu Ave, Micha tak punya saudara laki-laki, dan kalau itu ayahnya, itu tidak mungkin.
Ave tak mau pusing, ia ingin menunggu di depan saja. Dan saat ia ingin membalikkan badan, ia telah tertangkap basah oleh laki-laki yang ada disana. Ia hanya tersenyum lalu mencoba membalikkan badan.
“Tunggu! Masuklah jika kau ingin bertemu Micha!” kata lelaki yang ada didalam.
“Oh tidak, aku akan menunggunya diluar saja.” Jawab Ave.
“Baiklah.. dia akan segera menyusul.”
Tanpa berfikir panjang, Ave kembali ke ruang tamu.
“Kamu tadi bicara sama siapa?” tanya Micha saat keluar dari kamar mandi.
“Oh.. aku tidak tahu.” Jawab Miky dengan entengnya.
“kau ini. Gantian dong Mik, aku mau beresin muka sama rambut nih.” Keluh Micha.
“Sabar cinta, bentar lagi ya.” Jawab Miky ngasal.
“Mukamu sekarang lebih bersih, pake apa kamu? Jangan bilang kamu perawatan!” kataku kesal.
“Ngaco kamu! Enggaklah. Sebenernya udah dari dulu mukaku cakep, kamu aja yang nggak nyadar.”
“Dasar! Udah gantian!”
Miky menurutinya kemudian duduk diranjang tidurku.
“Jangan pake makeup berlebih! Aku lebih suka kamu yang apa adanya gitu.” Celoteh Miky.
“Ini Cuma bedak saja. Tipis juga kok.” Sanggahku.
“Terserah kau, apapun dan bagaimanapun kamu, kamu akan tetap cantik di mataku. Dan hatimu selalu baik menurutku.”
“Udah deh, jangan gombal.”
“Aku serius”
“Terserah deh. Yuk keluar, aku sudah lapar.”
“Tunggu, berikan aku sedikit parfum.” Pinta Miky
“Tuh di meja.” Sambil berlalu begitu saja.
Micha tak menyadari bahwa Ave telah datang, ia tak menengok pada ruang tamu, ia keluar ke halaman belakang setelah ia tahu bahwa makan malamnya belum sepenuhnya siap. Ia duduk di gazebo sambil menikmati langit malam.
“Indah kan?” Tanya Miky.
“Yaa.. cukup indah.” Jawabku tanpa memalingkan wajah ke arahnya.
“Mbem..” panggil Miky pelan.
“Apa?”
Miky tak segera menjawab, ia seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Micha.. makan malam sudah siap.” Panggil ibu dari arah tempat makan.
Tanpa perlu komando, kita berjalan menuju ruang makan.
“Oh hai Ve. Kapan kau datang?” tanyaku kaget. “Kenapa kamu tak masuk ke kamarku?”
“Sorry, tadi ada dia, jadi aku tak enak saja.” Jawab Ave jujur.
“Oh dia, perkenalkan, dia adalah Miky.”
“Hai.. Ave” sambil mengulurkan tangan.
“Miky. Senang berkenalan denganmu.” Membalas jabat tangan dari Ave.
“Silahkan.. jangan sungkan, anggap rumah sendiri ya nak Ave.” Kata ibuku.
“Iya tante..”
Klik. Mati lampu. Tiba-tiba listrik yang ada di rumah mati. Micha yang tak suka dengan gelap mulai merasa takut.
“Buk..” ucap Micha sedikit gemetar.
“Kamu mendekat ke Miky! Ibu akan cari lilin di warung depan. Persediaan di rumah habis. Nak Ave bisa temani tante?”
“Iya tante.”
Ibu dan Ave pergi ke warung untuk meninggalkan kita didalam.
Micha yang sejak mati lampu telah takut, ia terus menutup mata. Ia tak berani membuka mata, sedikitpun.
“Mik.. kumohon, jangan pergi. Mendekatlah!” pintaku.
“Aku tak akan membiarkamu sendiri. Tenanglah!” kata Miky. “Genggam tanganku jika kamu ingin melakukannya.”
Beberapa menit berlalu, dan itu sangat menyiksa untukku. Aku yang takut akan gelap merasa ini telah terjadi beberapa jam. Aku sudah tak kuat lagi. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak mau terlihat rapuh.
“Aku ingin ke toilet, bisa kamu lepas tanganku? Sebentar saja, aku sudah tidak tahan.” Pinta Miky saat ia mengetahui seseorang berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya. Ia sadar bahwa ini hanya sebuah rekayasa.
“Tapi Mik..”
“Aku janji tidak akan lama. Atau kamu mau ikut denganku?” godha Miky.
“Ah enggak! Jangan lama-lama ya!”
“Iya bawel.” Sambil beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah orang yang ada di pintu, ternyata itu ayah Micha.
“Iya om?” tanya Miky sedikit berbisik.
“Kemari, kita buat kejutan untuk dia. Tapi sebelumnya kita kerjai dia.”
“Baik om. Jadi, apa rencana om?”
“Simpel, jadi listrik sengaja om matikan. Dan kita semua biarkan ia sendiri disana. Om yakin sebentar lagi dia akan mencarimu, ia pasti akan menangis ketakutan. Dan ketika ia menangis, kamu datang. Namun, hanya suaramu. Nanti kita pake boneka ini untuk duduk di tempatmu, maka ia akan meraih tanganmu, namun tangan bonekalah yang ia raih. Dia akan semakin ketakutan.” Velas ayah Micha. “dia akan semakin manangis dan berteriak. Tak perlu lama-lama membiarkan ia begini. Lalu kita masuk sama-sama, om akan membawa kue yang ini, dan kamu yang itu. biar tante dan temannya yang berdiri disamping kita, mereka akan membawa kado untuk dia. Bagaiman?”
“Baik om.” Jawab Miky semangat.
“Mik.. Miky! Jangan lama-lama.” Teriak Micha.
“Jawablah, ‘sebentar, ini masih mules’!”
“Bentar Mbem, perutku mules.” Jawab Miky dengan intonasi yang ia buat-buat.
“Mik...” panggil Micha sambil menangis.
“Letakkan ini di kursimu” sambil memberikan boneka beruang yang cukup besar.
“Aku disini.” Kata Miky.
Semua berjalan sesuai rencana. Ia meraih tangan Miky, namun tangan bonekalah yang ia raih. Dia semakin ketakutan. Ia semakin manangis dan berteriak.
“Semua siap?” tanya ayah Micha.
Kami bertiga menganggukkan kepala. Kemudian lilin yang ada pada atas kue pun dinyalakan. kami berjalan menuju meja makan sambil bernyanyi lagu selamat ulang tahun versi Bahasa Inggris.
Sedikit remang-remang, Miky dapat melihat Micha menoleh ke arah kami. Ia masih dengan wajah yang ketakutan, namun kali ini telah dicampuri rasa terkejut. Micha telah berani membuka mata.
Micha masih tetap menangis, entah menangis karena takut atau karena haru.
Setelah lirik lagu tiup lilin berakhir, Micha memejamkan mata. Ia sedang make a wish.
Setelah lilin ditiup, lampu yang padam kemudian menyala dengan terangnya.
“Selamat ulang tahun sayang.” Kata ayahnya.
“Makasih yah.” Jawab Micha.
“Selamat hari kelahiran putriku.” Kata ibunya.
“terimakasih bu.”
“Lagi nih, selamat ulang tahun mbem. Cepet kurus ya!” ucap Miky.
“Makasih.”
“Selamat ulang tahun Micha..” sambil menghampirinya dan memeluknya.
“Makasih Ve.”
“Potong kuee..” kata ibu. “Kasih buat siapa potongan pertama itu.”
Setelah dipotong, ia hanya meletakkan diatas meja. Semua bingung.
“Kenapa? Ada yang salah ya?” tanya Micha.
“Potongan pertama kenapa kamu kasih di meja?” tanya ayah bingung.
“Siapa bilang? Ini akan ku makan.” Jawab Micha asal. “Siapa suruh ngerain aku?”
“Maaf..” kata Miky.
“Nggak nerima maaf. Sorry..” lalu duduk dengan sombongnya.
Semua saling pandang kemudian tertawa, begitu pula dengan Micha.
“Kalian lapar nggak? Aku lapar, jadi aku makan duluan ya!” ucap Micha membuat semua heran kemudian tertawa. Akhirnya mereka ikut makan bersama Micha.
“Bu.. sahabatku ada yang jahat banget sama aku.” kata Micha di sela-sela makannya.
“Emangnya kamu kenapa?” tanya ibu.
“Tadi siang aku diajak pergi kan buk, terus dia sebelumnya Cuma bilang kalo keluar biasa, yaudah aku pake celana sama kaos aja, eh ternyata diajak main jauh buk. Panas-panasan lagi, mana aku nggak bawa sunblock coba. Tambah item kan buk?”
“Emang siapa?” tanya ayah.
“Uhhuk.. nyindir” sela Miky pura-pura tersedak.
“Kamu kenapa Mik? Tuh minum, makanya kalau makan pelan-pelan, dinikmati.” Kata Micha.
“Kalian tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah.” Kata ibu sambil geleng-geleng. “Lanjutin makannya.”
Semua kembali seperti keadaan semula. Semua menikmati makan malam masing-masing.
       Setelah makan malam berlalu, Miky dan Ave terpaksa pulang bersama karena vemputan Ave tak kunjung datang, dan karena desakan dari ibu Micha.
       “Makasih ya..” kata Ave pada Miky saat sampai di depan rumahnya.
“Sama-sama. Aku balik dulu ya. Bye!”
Hari ini sepenuhnya milik Micha. Miky memberikan kenangan lagi untuk Micha. Jauh di lubuk hati Micha, ia sangat bahagia akan hal ini. kejutan yang diberikan membuat Micha semakin mengerti betapa hangatnya hubungannya dengan orang yang ia sayang.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti dulu. Semakin hari, komunikasi yang terjalin dengan Miky semakin renggang. Jarang kita melakukan komunikasi. Entah apa yang menjadikan semua ini terjadi, janji yang pernah ada mungkin telah mulai tertutup dengan jarak.
Singkat kata, singkat cerita, aku semakin deket dengan kak Choco. Dia adalah orang yang baik, perhatian, manis, suka nyebelin tapi ngangenin, gemesin, dan yang satu ini yang selalu aku cari dari setiap orang yang dekat denganku, nyaman. Ia selalu dapat membuatku nyaman dengannya. Dia selalu dapat membuatku semangat dalam menjalani hidup. Dia adalah orang yang bijak yang selama ini aku kenal, ia sangat dewasa dalam menghadapi setiap hal. Ia sering menggunakan hatinya untuk menghadapi wanita. Dan itu yang membuatku semakin tertarik padanya. Meski banyanganya masih jelas terngiang di kepalaku.
“Pagi..” sapa Choco di gerbang masuk ke dua.
“Pagi juga kak.” Jawabku tak kalah semangat dengan dia.
“Kesambet apanih? Tumben kamu semangat banget.” Sindir Choco.
“Hehe enggak lah kak, habis mimpi indah aja, jadi ya seperti inilah.” Jawab Micha enteng.
“Mimpi apa sih? Cerita dong!”
“Kalau Micha cerita, nanti ada yang kepedean. Micha masuk kelas dulu ya kak, bye!”
“Nanti aku tunggu di kantin ya istirahat pertama.” Kata Choco dengan sedikit berteriak.
Aku hanya menjawab dengan memberi isyarat melalui kedipan mataku.
Jam perlajaran berlalu begitu cepat. Matematika yang membuatku cukup pusing akhirnya berakhir. Aku harus bertemu dengan Choco sekarang.
Kak Choco : Aku tunggu kantin tempat biasa ya, ada yang mau ku kasih. Gpl :p
Tanpa berfikir panjang, aku penasaran dengan apa yang Chocky akan berikan untukku. Aku segera pergi meninggalkan kelas.
“Mau kemana Cha?” tanya Ika, teman sekelas Micha.
“Ke kantin, ada janji sama temen. Daa..”
“Yah..” respon Ika dengan sedikit lesu.
       Micha tak memperdulikan Ika. Sejujurnya ia telah punya janji lebih dahulu, jadi mau bagaimana lagi. Ia harus memenuhi janjinya.
       “Lama banget sih deg?” protes Choco.
       “Ya maaf, tadi ngobrol dulu sama temen. Hehe..”
“Nih buat kamu. Eh buat kita sih sebenernya. Ini dari mamaku. Tadi beliau nitip ini buat kamu, tapi gara-gara aku lapar ya kita bagi sama-sama.” Velas Choco.
“Loh? Bukannya aku baru ketemu sekali ya sama mamamu? Kok mamamu baik banget sih?”
“Iya dong. Mamaku emang gitu. Kamu mau minum apa? Aku nggak bawa minum.” Tanya Choco.
“Apa aja deh.”
“Oke, bentar ya.”
Tak selang lama, Choco datang membawa dua botol air minum. Bekal yang dibawa Choco telah habis kita makan. Mamanya membawakan sandwich untuk makan siang kami.
“Nanti ada acara nggak?” tanya Choco.
“Belum tahu sih, kenapa kak?” tanyaku.
“Pengen keluar aja, temenin ya?”
“Emang mau kemana?” tanyaku lagi.
“Ya pokoknya ada, gimana? Kalau kamu mau sekalian bayar janjiku ke kamu yang dulu itu.”
“Emm.. nanti aku kasih tahu aja ya kak, nanti aku kabari waktu istirahat kedua.”
“Oke. Kamu ke kelasku ya?”
“Iya.” Jawabku. “Makasih ya kak, sering-sering bawa bekal terus aku dibagi lagi. Hehe.. Micha balik kelas dulu ya.” Pamitku.
“Iya. Jangan lupa ke kelasku ya!” ingat Choco.
“Oke. Daaa..”
       Semenjak Choco datang, aku tak sedih lagi. Aku tak terlalu memikirkan tentang perpisahan yang masih berat ini. Meski kadang hal itu masih teringat velas, meski sayang yang aku miliki masih begitu kuah untuknya, dan semua kenangan yang sering membuatku pusing, Choco datang dengan sejuta cara untuk membawaku bangkit. Ia menawarkan banyak warna lagi untuk hidupku.
Banyak hal yang aku dapatkan dari Choco, mulai dari bagaimana cara merelakan, melepas, mempertahankan, mengikhlaskan dengan hati yang utuh. Ia mengajariku dengan perlahan, tanpa harus dengan kasar. Ia mampu membuat orang yang ada di dekatnya selalu merasa nyaman.
“Permisi kak, maaf Kak Choco  ada?” tanyaku pada salah satu teman sekelasnya.
“Ada, itu di dalam. Masuk saja!” jawabnya.
“Makasih kak.” Kemudian berjalan masuk kelas Choco.
“Kak..” Panggilku saat mengetahui bahwa Choco sedang asyik dengan Hpya.
“Oh hai Cha. Ku kira kau tak menepati janjimu. Aku telah menunggumu.” Kata Choco.
“Ups maaf.. Aku bisa, tapi anterin pulang dulu ya kak?!”
“Iya. Aku tunggu di gerbang depan ya nanti. Oiya, ini ada titipan lagi, tadi ketinggalan di kelas.” Sambil berusaha mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Ini.” sambil memberikan sebatang coklat untukku.
“Makasih kak.” Ucapku.
“Kalau yang ini bukan dari mama.”
“Terus dari siapa?” tanyaku bingung.
“Dari aku dong, siapa lagi?”
“Hehe.. makasih ya kak. Micha kembali ke kelas dulu.” Pamitku.
“Iya.”
~~~
“Kamu mau nonton nggak Cha?”
“Boleh, lama udah enggak nonton.”
Akhirnya sore itu kami memutuskan untuk pergi nonton. Kita pergi begitu saja, tanpa rencana sebelumnya. Kita juga belum tahu akan menonton apa, kita ahnya modal pergi begitu saja.
Dua buah tiket, satu porsi popcorn ukuran medium dan dua botol air mineral telah siap dibawa masuk ruang bioskop.
Sebuah film dengan genre romance baru saja dimulai. Micha dan Choco menikmati film dengan ditemani popcorn yang sengaja Micha letakkan diantara mereka. Mereka mengambil popcorn secara bergantian meski tanpa ada konfirmasi sebeumnya. Sesekali mereka mengambil popcorn secara bersamaan, dan ketika hal itu terjadi, ta jarang mereka saling menatap kemudian tersenyum. Biasanya Micha yang mengalah untuk mengambil popcorn. Namun, berbeda halnya saat ini. ketika tangan mereka bertemu pada saat yang sama, tak ada satupun yang mengalah untuk mengambil di akhir. Tangan mereka tetap disana, bergandengan. Tak ada satupun dari mereka yang berani menengok. Mereka hanya berfokus pada layar, tak ada diantara mereka yang saling menatap. Hal tersebut terjadi hingga berakhirnya pemutaran film.
“Nunggu udah nggak rame lagi ya? Baru kita keluar.” Kata Choco.
“Iya.” Jawabku sambil membereskan barang-barang.
Ketika ia berdiri, aku menirukannya, kemudian berjalan dibelakangnya menyusuri kursi-kursi yang ada.
“Micha lapar kak, makan yuk?” kataku.
“Iya.”
Kami memilih salah satu restoran yang ada disana. Menikmati hidangan berdua. Tak jarang Choco berulah konyol sehingga membuat Micha tertawa. Dan sejak saat itu, kami semakin dekat.
Setelah perut kami terisi, kami berkeliling mall. Tak jarang kami masuk ke toko hanya untuk melihat, kemudian pergi lagi. Hingga kami lelah, dan memilih untuk pulang.
Setiba di rumah, langit cerah telah berubah menjadi gelap. Dengan bintang yang bertaburan diantara awan, menjadikan gelap tak buruk yang difikirkan. Mereka membuat gelap menjadi lebih indah.
Mawar merah yang diberikan Choco untukku akan kusimpan dalam kamarku, akan ku letakkan dalam gelas kecil dan ku beri air, biarkan mawar itu sedikit lebih lama bertahan hidup.
Terdengar pintu kamarku diketuk, dan disusul dengan “Boleh masuk?”
“Iya.” Jawabku dari dalam. “Masuk aja, nggak Micha kunci.”
“Hai..” sapa Ayah.
“Ada apa yah?” tanyaku saat ayah telah duduk di sampingku.
“Cuma mau ngobrol aja. Naik yuk? Ada yang ayah mau tanya ke kamu. Sepertinya lebih enak kalau ngobrolnya diatas. Malam ini langit tampak indah.” Tawar ayah.
“Boleh. Ayah naik duluan aja, Micha mau ke toilet dulu.”
“Ok”
Saat ayah telah naik, aku bergegas ke toilet dan setelah itu ke dapur untuk mengambil sebotol minuman dingin dan teh hangat untuk ayah.
“Ada apa sih yah?” tanyaku penasaran.
“Kamu nggak ada masalahkan sama Miky? Kok ayah lihat, kalian sekarang jauhan. Miky juga jarang main lagi.” Tanya ayah
“Enggak kok yah. Ya mungkin karena dia banyak tugas, kan sekarang juga kita beda sekolah, jadi ya nggak selalu punya tugas yang sama.” Jawabku bohong.
“Bagus deh. Ayah fikir persahabatan kalian pecah.”
“Ayah jangan gitu dong. Mana mungkin kita pecah? Ayah tahu sendirikan kita gimana? Hehe..”
Ayah hanya tersenyum. “Micha..”
“Iya yah?” sambil menengok ke arah Ayah.
“Yang tadi main sama Micha siapa? Pacar ya?” tanya ayah menggoda.
“Bukan! Bukan! Itu bukan pacar Micha.” Jawabku sedikit salting, namun memang begitulah keadaannya. Aku dan Choco memang dekat, namun tak ada hubungan yang mengikat. Entah memang tidak atau belum. Biar waktu yang akan berbicara.
“Ya kalau bukan pacar kenapa kamu semerah itu?” goda ayah lagi.
“Ayah apaan sih??” jawabku semakin salah tingkah. “Dia namanya Choco. Choco itu kakak kelas Micha. Kita Cuma temenan yah. Tadi kak Choco mita ditemenin nyari buku sama barang.” Velasku.
“Dia perhatian ya?” tanya ayah.
“Ya begitulah. Kak Choco baik banget yah. Banyak temen-temen Micha yang naksir sama dia. Tapi ya gitu deh, nggak ada yang nyantol sama kak Choco. Padahal temen-temen Micha yang naksir sama dia cantik-cantik loh yah.”
“Ya dan akhirnya kamu yang beruntung. Kamu beruntung mendapatkan perhatian darinya. Ayah suka sama dia. Kapan ajak main kerumah?” goda ayah.
“Ayah apaan sih?”
“Kenalan sebagai teman kamu sayang..” sahut ayah.
“Iya deh, nanti Micha fikirkan dulu bagaimana caranya. Micha ke kamar dulu ya yah, capek. Daaa ayah”
“Mimpi indah sayang. Besok pagi jogging sama ayah ya.”
“ok” jawabku dengan terus berjalan menuruni anak tangga.
Hari ini melelahkan, namun lelah itu telah teralihkan dengan kebahagiaan yang memenuhi perjalananku.
~~~
Ketika mentari mulai menampakkan dirinya. Kehidupan dimulai. Seperti yang ayah katakan. Pagi ini, aku dan ayah bangun lebih awal untuk jogging. Biasanya kita akan mengelilingi daerah tempat tinggalku, dan ketika kami mulai lelah dan perut mulai keroncongan, kita akan mempir ke tukang bubur yang ada di dekat taman.
       “Pulang sekarang ya yah, Micha udah nggak nyaman ini. pengen cepet-cepet mandi.” Ajak Micha.
“Ok.”
       Untuk sampai di rumah, aku dan ayah tidak membutuhkan banyak waktu, karena jaraknya tidak begitu jauh. Warung bubur ini terletak kurang lebih seratus meter.
Hari ini waktuku kuhabiskan untuk istirahat di rumah. Entah kenapa hari ini tak ada niat untuk pergi. Biasanya saat libur seperti ini, aku akan pergi bersama Ave. Entah untuk jalan-jalan, nongkrong, nonton, belanja, dll.
Aku memilih bersantai di sofa kamarku dengan novel yang baru saja kubeli. Perlahan aku mulai merasakan kantuk yang luar biasa. Hingga pada akhirnya aku tertidur.
~~~
“Micha ada di kamar Mik, masuk aja nggak papa. Tante sama om mau pergi dulu. Nanti kalau kalian lapar, tante udah siapin makan didapur.” Kata Ibu pada Miky saat mereka bertemu di halaman rumah.
“Iya tante. Hati-hati om, tante.”
Ayah dan ibu pergi setelah mendengar jawaban dari Miky.
Miky memang sudah dianggap anak sendiri sama ayah sama ibu. Ya karena aku dan Miky adalah sahabat sejak lama. Dan Miky sudah tidak canggung lagi kalau ia ada di rumahku.
“Micha..” panggil Miky.
Belum juga ada respon. Miky mengulanginya lagi. Dan tak ada respon. Kemudian ia masuk ke kamar Micha. Miky mendapati Micha tengah tertidur di sofa.
“kebiasaan..” ucap Miky pelan sambil geleng-geleng kepala.
Miky mengambil novel yang masih dipegang Micha dan meletakkan pada meja belajarnya.
“Pantas saja tembem tidur, dia nggak buka pesanku.” Kemudian meletakkan HP Micha kembali pada tempatnya.
Alunan musik tiba-tiba berbunyi. Ya itu nada panggilan Micha. Micha yang mendengarnya kemudian bangun.
“Miky? Sejak kapan kamu disini?” tanya Micha masih dengan mata yang ia paksakan untuk bangun.
“Baru aja. Angkat tuh!”
Mata Micha langsung terbuka lebar ketika ia mengetahui siapa yang sedang memanggilnya. Choco.
“Hallo..” jawab Micha.
“Kamu lagi dimana Cha? Aku di depan rumahmu nih. Aku masuk ya?”
“Apa? Kakak di depan?” tanya Micha tak percaya.
“Iya. Kamu keluar dong!”
“Iya kak bentar.” Jawab Micha kemudian menutup telephon. Micha bingung. Mukanya masih terlihat bahwa ia baru saja bangun tidur. Ia berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Menyapukan sedikit bedak pada wajahnya. Miky yang melihatnya bingung apa yang terjadi. Ia memutuskan untuk ke dapur mengambil minum.
Micha yang sibuk dengan dunianya, ia lupa bahwa Miky datang untuk menemuinya. Micha cepat-cepat membuka pintu untuk Choco.
“Hai..” sapa Micha.
“Lama banget sih Cha? Aku disini udah lama tau.” Protes Choco.
“Sorry, tadi ada sedikit masalah gitu deh.” Jawab Micha. “Masuk kak!” ajak Micha.
“Ok. Aku nggak ganggu kamu kan?” tanya
“Santai. Masuk kak!” ajakku. “Ayah ibu lagi keluar. Aku Cuma di rumah sensiri.” Tiba-tiba aku teringat Miky “Dan ada sahabatku juga.” Lanjut Micha.
“Oh hai..” sapa Miky yang ternyata sedang duduk di ruang tamu dengan menikmati minumnya.
“Duduk kak! Kenalkan ini Miky, sahabatku. Dan Mik, kenalin ini Choco.” Kemuadian keduanya slig berjabat tangan dan memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Yaudah aku naik naik ya Cha. Pengen ngadem.” Pamit Miky.
“Iya.” Jawabku.
“Duluan ya Chok..”
“Ok.” Jawab Choco.
Kini tinggal aku dan Choco yang tinggal di ruang tamu. Kita ngobrol panjang lebar. Aku menceritakan mengenai hubunganku dengan Miky. Aku juga menceritakan tentang ayah ingin kenalan sama dia. Choco ingin bertemu ayahku, namun dia masih belum yakin. Ia sedikit malu. Kini tak ada lagi rahasia antara aku dan Choco. Ia menerima ceritaku dengan baik.
“Aku nggak yakin sih ayah pulang jam berapa, tadi ayah pamitnya sama Miky.”
“Oke. Aku tunggu, hehe.”
“Kakak udah makan? Udah masuk makan siang nih kak, makan yuk?” ajakku.
“Kamu tahu banget sih Cha kalau aku lapar.” Kemudian tawa kami memecah sepi.
“Yuk!” sambil menarik tangan Choco dan membawanya ke dapur. Nihil. Tak ada makanan tersedia. Nggak biasanya ibu seperti ini, pasti ibu selalu menyiapkan makan sebelum beliau pergi. Ya sepertinya aku tahu pelakunya. Miky.
“Yah nggak ada makanan. Kakak buat mie mau nggak?” tawarku.
“Boleh. Kita buat sama-sama aja.” Jawab Choco semangat. 
“Kakak bisa?” 
“Kalau cuma masak mie seperti ini mah aku bisa. Siapin barang-barangnya ya! Aku yang akan masak buat kamu.” Perintah Choco.
“Siap.”
“Udah kan? Sekarang kamu duduk disitu ya!”
Aku menuruti permintaan Choco. Mengamatinya membuat mie untukku dan untuknya.
“Finish! Ini buat kamu.” Meletakkan sebuah mangkok di meja untukku. Aromanya membuat perutku semakin lapar.
“Thanks.” Jawabku.
Mie yang dibuat Choco memang hanya mie instan biasa, namun entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang beda dengan masakannya.
Setelah makanan kita habis, kita mengembalikan ke dapur sama-sama. Kita berhenti untuk mencuci tangan. Aku mendapat giliran mencuci tangan lebih awal.
Aku menunggunya  untuk mencuci tangan. Tanpa sadar, aku mendekatinya dan mencium pipi kirinya dan berkata “Kamu cowok yang berhasil membuatku nyaman setelah Miky. Makasih kak.” Dengan nada yang lirih. Aku sadar bahwa pipiku saat ini pasti sedang memerah. Choco terus melanjutkan cuci tangannya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Ia tersenyum dengan pandangan kedepan.
Setelah selesai, ia berbalik badan dan menghadapku. Menatap tajam mataku, sama seperti apa yang selalu Miky lakukan. Kemudian ia tersenyum kepadaku. “Sama-sama. Makasih kamu udah mau jadi bagian dari ceritaku.” Dan mencubit hidungku. “Peseeeekkk”
“Aw!!” pekikku. “Sakit nih. Merahkan.” Protesku.
“Itu tak lebih merah daripada setelah kamu mencium pipiku.” Jawab Choco kemudian berjalan meninggalkan ku dan tersenyum puas.
‘Oke aku kalah’ kataku dalam hati, kemudian berjalan di belakangnya.
“Naik yuk kak, gangguin Miky. Pasti dia lagi tidur di atas.”
“Kamu masih ada perasaan sama dia ya?” tanya Choco.
Aku meceritakan semuanya, tentang hatiku yang sesungguhnya. Aku pun menvelaskan bahwa aku saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan perasaanku seperti dulu, perasaan sayang sebagai sahabat. Choco pun berjanji akan membantuku dalam menjalankan perasaanku. Choco yakin bahwa aku pasti bisa.
Zzz..zzz..zzz.. HP Choco bergetar.
“Mama.. aku angkat dulu ya.”
Aku membiarkan Choco mengankatnya, dan aku memilih mengambil minum ke dapur. Setelah meletakkan gelas, aku membalikkan badan. Kudapati Choco berjalan ke arahku. “Aku harus vemput mama belanja. Sopir mama baru saja pulang karena istrinya melahirkan. Kapan-kapan aku main lagi.” Pamit Choco.
“Iya. Hati-hati ya, salam buat mamamu.”
“Thanks for today. Salam juga buat orangtuamu.”
“You’re very welcome.”
Aku mengantar Choco ke depan rumah. Saat ia meninggalkan halamanku, aku baru kembali masuk ke rumahku.
“Mik.. kembaliin piringnya dong! Nanti kena marah ibu baru tahu rasa kamu.” Kataku setelah mengetahui bahwa Miky meninggalkan piring di meja atas, padahal ia sedang di kamarku.
“Aku bakalan ngembaliin, tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu nanti bakalan dengerin aku?” tanya Miky.
“Iya. Buruan deh!”
Tak lama Miky telah kembali ke kamarku lagi, dan ia menagih janjiku.
“Aku ingin cerita ke kamu. Tapi sebelumnya aku mau kita buat perjanjian dulu.” Kata Miky.
“Oke.” Jawabku semangat.
“Jadi perjanjiannya 1. nggak boleh ada tangis setelah ini. 2. Apapun yang terjadi, kita akan tetap sama-sama. 3. Harus selalu jawab jujur.” Velas Miky. “Gimana?”
“Oke.” Sambil memberikan jari manisku untuknya. “Mulai”
“Jadi sebenernya seminggu setelah kamu ulang tahun, aku jadian sama cewek. Dia temen sekelas aku, dia juga temen seorganisasi sama aku. kita mulai deket setelah sebulan kita masuk sekolah. Jujur, sebenernya aku juga masih bingung dengan keputusanku. Sayangku buat kamu melebihi apapun. Seolah duniaku mati tanpamu. Entah apa yang membuat seperti itu. sampai detik ini, rasaku untukmu masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun. Sebenarnya kau kasihan dengan cewekku, tapi seperti inilah hidup. Kamu akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, dimana setiap pilihan yang diberikan selalu ada resiko. Namun aku percaya, dibalik resiko yang ada, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Dan akhirnya aku telah memilih pilihan itu. aku memilih dia. Namanya Zee. Dia hampir sepertimu. Tingkahnya, sifatnya, semua hampir sepertimu. Tahu nggak Cha? Sejujurnya sakit dengan apa yang aku putuskan ini, ya mungkin ini resikonya. Sekarang bagaimana dengan kamu cha? Bagaimana dengan pilihan yang kamu hadapi, apa kamu udah menentukan pilihan? Jangan terlalu lama berfikir, cepatlah mengambil keputusan. Tapi jangan gegabah lagi. Aku takut pilihan yang kamu hadapi akan pergi.”
Mendengar setiap kata yang Miky ucapkan membuatku sakit. Berat rasanya untuk mendengar ceritanya. Seolah aku tak sanggup lagi menahan air mataku. Pandanganku tak velas, namun aku tetap berusaha menahannya.
“Cha? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Miky.
“Ya aku baik. Bentar, biarkan aku menyusun kata-kata.” Jawabku bohong, padahal aku sebenarnya sedang berusaha mengatur nafasku untuk tak membiarkan air mataku tak jatuh.
“Mmm... kaget dengernya. Gimana ya? Kayak semuannya mendadak banget gitu. Kamu bahkan nggak pernah crita apapun sama aku. sedikit pun kamu nggak pernah crita. Atau seenggaknya dengan tingkahmu aku bisa tahu. Tapi kamu tuh enggak. Kamu bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Hey! Aku masih sahabatmu. Aku masih berharap kamu sama aku terus, sahabatan sampai kita tua nanti. Masih saling bertukar cerita. Oke kita pernah lebih dari itu, tapi kan kamu tahu aku kayak gimana? Kenapa kamu beda? Seolah aku tuh orang yang nggak penting lagi tau nggak? Apa emang aku udah bukan sahabatmu lagi? Kamu sadar nggak sih? Ayah nanyain kamu, beliau kira kita tuh lagi berantem. Aku harus bohong sama ayah. Sampai kapan aku harus kayak gitu? Sampai kapan aku harus nahan sakit saat aku denger nama kamu? Ha? Sakit!” aku tak mampu lagi menahan air mataku. Ku benamkan wajahku pada guling yang saat ini ada di pangkuanku. Aku menangis sejadinya.
Miky mendekatiku. Masih memperlakukanku seperti dulu, seperti ketika aku menangis, ia mengelus kepalaku, kemudian membenamkanku dalam peluknya.
“Maafkan aku. Bukannya aku sudah tak menganggapmu sebagai sahabat. Aku hanya belum siap untuk menceritakan ini padamu. Aku sudah menebaknya bahwa kamu akan seperti ini. Maafkan aku Cha.” Sambil terus mengusap air kepalaku.
  “sampai kapan kamu akan simpan semuanya?” dengan nadaku yang sedikit bergetar.
“Maaf..”
Aku menjauhkan tubuhku dari dia. Kulepas peluknya.
“Tinggalkan aku sendiri.” Mintaku.
“Enggak, aku nggak akan ninggalin kamu sendiri. Aku tahu setelah ini pasti kamu akan pusing.” Jawab Miky.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu melakukannya?!” bentakku. Aku terus duduk dengan memeluk lututku.
“Aku juga pernah merasakan sakit seperti yang saat ini kamu rasakan, mungkin lebih parah lagi. Dan itu juga gara-gara kamu. Tapi aku nggak pernah crita, aku selalu bertingkah biasa. Dua kali kamu lakukan ini, dua kali aku terluka. Ketika aku memaafkanmu, kamu selalu mengulanginya. Kamu selalu jatuh pada lubang yang sama. Dan sekarang kamu tahu bagaimana sakitnya kan? Itu belum seberapa. Bukannya aku balas dendam, tapi...” perkataannya terhenti. “ah susah untuk menvelaskan. Dan aku nggak mau bahas soal itu lagi. Aku sudah mengubur kenangan itu.”
Aku masih tak ingin membalas perkataan Miky. Aku masih ingin meluapkan emosiku pada tangisku.
“Sekarang bagaimana dengan pilihanmu? Akankan kamu akan memilih untuk melangkah atau kamu ingin bertahan disini? Itu yang harus kamu fikirkan. Jangan gegabah untuk ambil keputusan. Dan untuk ceritaku, aku tak akan melanjutkan saat ini, aku akan menceritakan suatu saat nanti, ketika memang keadaan sekiranya baik.” Velas Miky. “Tadi nggak sengaja aku lihat dan dengar kalian di dapur, waktu kamu mencium dia. Bukannya aku nguping, tapi aku tak sengaja. Aku tadi mau ngembaliin piring, tapi setelah aku lihat itu, aku batalkan niatku. Makanya piringnya aku taruh atas.” Lanjutnya.
Aku suah tak mampu mengontrol diriku lagi. Aku tak mau menjawabnya lagi. Kepalaku terasa sangat berat.
“Mik...” sambil memegangi kepalaku, dan badanku tak seimbang lagi.
“Sini pelan, aku bantu.” Dengan gegas ia membantuku untuk tiduran. Ia membenarkan posisiku tidur. “Aku buatin teh ya?” tawar Miky.
“Enggak. Kamu pulang aja, aku nggak papa kok.”
Bagaimana Miky bisa tahu kalau setelah nangis/kaget akan sesuatu aku selalu pusing? Aku tak pernah cerita, bahkan dulu aku selalu menutupi dari dia.
“Kamu istirahat aja, aku akan nemenin kamu.” Kata Miky. Ia terus saja mengelus rambutku. “Jangan pernah kamu merasa canggung sama aku. penuhi tiga janjimu tadi.”
Aku tak memperdulikan Miky berbicara apa.
“Mik.. sakit!” rintihku. Tanpa sadar aku meremas tangan Miky.
“Tahan Cha. Kamu kuat, aku yakin.”
Dengan sabar Miky terus menenangkanku. Ia tahu bagaimana harus bersikap kalau aku sedang seperti ini. Ia membuatku nyaman, hingga aku melupakan sakitku dan tertidur.
Ada kata yang selalu ia katakan kalau kau sedang sakit, “kamu kuat. Sekarang kamu paksa istirahat, nanti kalau tengah malem kamu nggak kuat, kamu hubungi aku. Aku akan selalu ada buat kamu. Yang penting kamu cepet sembuh.”
~~~
Miky.
Sejujurnya aku sakit ketika melihat kalian berduaan di dapur, terlebih ketika aku lihat kamu mencium dia dan berkata seperti itu. lukaku yang dulu belum tersembuhkan, dan kini kau buat luka lagi. Aku akan mencoba untuk terus sabar demi kamu. Demi perasaanku yang ada untukmu.
Aku akan selalu mencintaimu, aku tak akan pernah sekalipun untuk membuang rasa itu. biarkan rasa ini abadi, entah sampai kapan aku akan merasakan sakit ketika aku melihatmu dengan oranglain.
Aku akan ikhlaskan kamu dengan oranglain kalau memang diantara kita tak bisa sama-sama lagi, namun aku hanya ingin kita terus bersama dalam segala keadaan. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku masih mencintaimu.  
~~~
Beberapa hari setelah itu, aku kembali tak berkomunikasi dengan Miky lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Aku berjanji akan menghubunginya setelah aku merasa aku siap untuk mendengar ceritanya. Meski aku tak yakin aku akan siap, aku akan selalu bilang siap. Namun itu hanya di mulutku, tak pernah sama dengan hatiku.
Kini aku dan Choco semakin dekat.
“Aku ada tempat yang harus kita nikmati, nanti sore free kan?” tanya Choco Via telephon.
“Iya.” Jawabku dengan senyum yang lebar, karena aku sadar bahwa Choco menelphonku dengan jarak yang dekat. Dia ada beberapa meter di depanku.
“Oke setelah pulang sekolah ya.” Sambil mengedipkan sebelah mata kemudia tersenyum lebar ke arahku.
“Oke!” jawabku kemudian mematikan telphonnya.
Tak lama Choco meninggalkanku begitu saja. Dan aku meneruskan perjalananku menuju kantin untuk membeli minum.
~~~
“Suka sama tempat ini?” tanya Choco.
“Iya. Aku pernah kesini sebelumnya, namun aku tak pernah berhenti untuk takjub pada tempat ini. Makasih udah membawaku ke tempat ini.” kataku.
“Aku tahu tempat ini dulu pernah kamu kunjungi sama Miky. Ini menjadi tempat favoritmu kan?” tanya Choco.
“Iya, aku cinta banget sama tempat ini.”
“Boleh nggak, tempat ini jadi favorit kita? Biarkan tempat ini menjadi cerita kita? Biarkan tempat ini menjadi saksi kita?” kata Choco, “Micha.. tempat ini indah, seindah senyummu. Angin disini sejuk, seperti kehadiranmu yang selalu membawa kesejukan untukku. Micha.. aku mencintai segala kekuranganmu dan lebihmu. Micha.. maukah kamu terus ada disampingku? Sanggupkah kamu menyimpan aku di hatimu?”
Aku terkejut dengan pernyataan Choco. Aku sungguh tak menyangka bahwa dia akan menyatakan apa yang ia rasakan disini di tempat yang aku cintai, dan saat ini ketika mentari akan kembali ke peraduanya. Choco terimakasih, aku tak tahu harus berkata apa, yang velas aku suka. Bersamamu, aku akan menjawab pilihan itu. Aku memilih untuk melangkah, karena tak ada guna aku bertahan dengan segala rasa yang terus menyiksaku.
“Iya, aku akan terus mencoba melakukannya.” Jawabku.
Choco menarikku dalam peluknya. Tak lama aku melihat Miky datang menghampiri kami.
“Thanks Mik!” kata Choco kemudian memeluknya.
“Iya sama-sama. Jaga Micha baik-baik ya Chok! Kalau sampai dia kenapa-napa, orang pertama aku cari adalah kamu.” Jawab Miky.
“Mik..” rengekku. Kemudian aku menghampiri Miky dan memeluknya terang-terangan di depang Choco, aku yakin Choco tahu apa maksudku. “Maaf untuk selama ini. Aku akan tetap mencintaimu. Thanks for everything. Akan aku simpan rasa ini, selamanya.” Bisikku pelan.    
“Iya sama-sama. Jangan nangis lagi, aku akan selalu berusaha ada buat kamu. Tapi aku akan jaga jarak, takut ada salah paham sama Choco. All is well. Baik-baik ya kamu. Jangan ngeyel sama Choco.”bisiknya.  “Longlast ya kalian. Tugasku selesai Chok, aku balik duluan ya!” pamit Miky. “Daaa”
 Setelah Miky tak terlihat lagi, aku dan Choco duduk. Menikmati sunset di tempat favorit kami. Sunset pertama dengan choco dalam hubungan ini.
Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Dalam hati aku berdoa “Tuhan.. semoga ini pilihanku yang benar, tak ada tangis di depan Choco karena Miky. Aku tak mau melibatkan Choco dalam masalahku bersama Miky. Tuhan.. izinkan aku menyimpan rasa ini untuk Miky, begitu pula Miky. Aamiin..”
Ku tulis pesan singkat untuk Miky “Simpan rasa ini J ”

J TAMAT J

Komentar