Aku berjalan melewati lorong sendirian. Aku
merasa sangat asing disini. Kucoba melihat keadaan dan orang-orang disekitarku.
Nihil! Aku tak berhasil menemukan siapapun. Dengan sedikit keraguan aku pun
terus melangkahkan kakiku.
Kulihat sebuah bangku dibawah pohon yang masih
kosong. “syukurlah, aku akan istirahat disana.” Kataku kemudian dan kakiku
membawaku menujunya.
Lingkungan baru, teman baru, kebiasaan baru,
semua baru. Aku berharap semua akan berjalan sesuai dengan keinginanku. Aku
akan segera menyesuaikan diriku pada lingkungan ini.
Sambil bersandar di batang pohon, aku melamunkan
teman-teman lamaku, aku belum mendapat kabar dari mereka tentang sekolah mereka
yang baru. Mungkin mereka sedang sibuk menyiapkan semuanya, jadi aku akan
menunggu mereka saja, aku tak mau mengganggu mereka.
~~~
“Pagi vi.. apa kabar?” bunyi pesan yang sedang
kubaca. Ya, ini adalah pesan dari Miky.
Aku bingung akankah aku harus membalasnya atau
tidak. Aku tidak begitu yakin untuk membalas pesannya. Akhirnya kuputuskan untuk
menghiraukannya.
Sudah beberapa hari aku tak bertemu Miky, rindu
pun tak dapat kuhindari. Sepi tanpanya membuat hariku seolah berjalan lebih
lama. Kini aku tak dapat lagi melihat tingkah gilanya. Tak ada lagi yang
menegurku ketika aku melakukan salah. Tak ada lagi yang mengingatkanku untuk
makanlah, obatlah, apalah. Yang velas nggak ada lagi yang ngomel gara-gara aku
nggak mau makan.
“Micha, sudah lama kita tak berjumpa. Bagaimana
dengan sekolah barumu? Pasti menyenangkan bukan? Jangan lupa makan, sholat,
jaga kesehatan baik-baik ya!” pesan masuk dari Miky.
“Ya cukup menyenangkan, meski terkadang banyak
tugas membuatku cepet pusing. Bagaimana dengan kamu? Iya, aku pasti
melakukannya. Kuharap kamu juga begitu.” Balasku.
“Aku juga merasakannya. Tak jarang aku merasa
kewelahan dengan tugas yang ada, tapi apa daya? Jalani aja, semua butuh proses.
Jadi ya semua kulalui dengan santai. Bagus deh.. J” balasnya lagi.
“Musim hujan sudah mulai, kamu jangan suka
hujan-hujan. Kalau mau pergi bawa mantel! ” ingatku.
“Iya.. Kamu jangan terlalu lama berada di teras
saat hujan, sebaiknya kamu masuk rumah. Hawa dingin nggak bagus. Aku nggak mau
kamu sakit.”
“Iyaa.. terimakasih telah mengingatkanku.”
Balasku.
“Kembali kasih. J “ jawabnya.
Endchat! Setelah itu aku tak tau lagi harus
membalas apa. Ku fikir itu cukup.
Aku merasa aku dan Miky semakin jauh. Memang kita
pernah berjanji untuk kembali jadi sahabat setelah kejadian itu. Kita akan
tetap bersama, masih saling berbagi, saling mengingatkan. Tapi apa sekarang
yang terjadi? Janji telah hilang bersama dengan waktu yang terus berjalan.
Jarak yang ada semakin nyata.
“Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi,
mungkin ini adalah takdir Tuhan.” Kataku dengan sangat pelan. “Ah bukannya
takdir dapat kita patahkan dengan usaha kita? Tapi, mau usaha apa coba? Udah
cukup mungkin. Yaudahlah..”
“Hai Mic! Kamu ngapain diem aja?” tanya Ave,
teman sebangkuku.
“Nggak papa Ve. Hehe..” jawabku dengan cengiran.
“Laper nih, kantin yuk?” ajak Ave.
“Kebetulan, aku juga laper nih. Tapi aku bawa
bekal. Gimana dong?” tanyaku.
“Bawa aja. Ntar kamu bisa makan disana, pesen
minum sana kan nggak papa.” Jawab Ave.
“Oke.”
Kami berjalan ke kantin dengan irigan percakapan
santai.
“Aku nitip pesan es susu dong Ve. Sekalian gitu.
Hehe..” kataku saat sampai di kantin. “Aku tunggu disini.” Lanjutku sambil
duduk disalah satu meja.
“Iya.” Jawab Ave sambil mengedipkan sebelah mata.
Ku buka kotak makanku. Seperti hari biasanya, aku
selalu membawa bekal untuk makan siang. Menu makan siang hari ini adalah roti
panggang rasa coklat buatan ibuku.
“Tumben nggak bawa nasi?” tanya Ave sedikit
membuatku kaget.
“Dibuatinnya ini, yaudah bawa aja. Bosen juga sih
tiap hari makan nasi.” Jawabku enteng.
“Enaknya jadi kamu, bekal udah disiapin.”
“Apasih? Kamu tau sendiri kan aku nggak bisa
makan sembarangan?”
“Iya sih Mic. Semangat ya! Pasti sembuh.” Kata Ave.
“Amin.. Makasih Ve.” Jawabku sambil tersenyum.
Tak selang lama pesanan Ave pun datang. Tanpa
berlama-lama lagi, Ave menyantap makanannya.
“Mic.. Sebenernya kamu tuh sakit apa sih?” tanya
Ave ditengah-tengah ia makan.
“Cuma fertigo kok.” Jawabku.
“Fertigo bukan masalah sepele tau, kalo nggak
diurus bisa jadi kanker otak.”
“Tenang, kamu tahu sendiri kan aku gimana? Makan
aja bawa bekal terus. Ini udah masa penyembuhan kok.” Kataku.
“Kamu tuh ya, selalu nutupin apa yang kamu
rasakan. Kamu nggak pernah mau orang lain tau apa yang sedang kamu rasakan.
Sesakit apapun kamu coba buat nutupinnya. Salut sama kamu Mic.” Kata Ave
serius.
“Aku cuma nggak mau oranglain susah gara-gara
aku. Aku mau mereka selalu nyaman ketika sama aku. Itu aja.”
“Tau nggak? Dari pertama aku kenal kamu, aku udah
nyaman sama kamu. Kamu bisa tuh bisa nempatin diri kamu dengan baik. Tapi entah
kenapa, beberapa hari ini kamu beda. Ada masalah apa? Cerita aja, aku akan
berusaha membantumu.”
“Aku nggak papa kok Ve. Mungkin hanya perasaanmu
aja.” Jawabku.
“Jangan bohong! Aku tau bagaimana kamu, kamu
nggak mungkin begini kalo kamu lagi nggak ada masalah. Cerita aja.”
Aku tak tahu lagi harus bagaimana menutupinya,
semakin kucoba menutupinya, Ave akan semakin curiga. Akhirnya pada saat itu aku
menceritakan semuanya. Ave mendengarkan setiap cerita dengan baik. Ia memberiku
masukan-masukan. Aku merasa nyaman dengan dia. Dia adalah sahabat pertama di
sekolah baruku ini.
“Jangan pernah anggap bahwa kamu selalu kuat,
kamu selalu dapat menyelesaikan masalahmu sendiri. Seberapa kuat cewek untuk
melawan masalahnya, ia pasti akan menemukan titik lemahnya. Dan kau butuh
oranglain untuk membuatmu bangkit lagi!” kata Ave.
“Thanks Ve.”
“Balik kelas yuk? Tambah rame nih.” Ajak Ave.
~~~
Lagu The Power of Love mengiringi perjalananku
pulang. Headset yang kupasang akan memutakan lagu-lagu tentang aku dengan dia.
Lagu yang sangat kurindukan kuputar bersama dia.
“Assalamualaikum.. Micha pulang.” Kataku saat
masuk rumah. “Kenapa nggak ada yang jawab ya?” tanyaku pada diri sendiri.
“Mungkin ibu dihalaman belakang.”
Aku berjalan menuju kamar tidurku,
kemudian berganti pakaian dan membereskan keperluan yang baru saja kubawa
sekolah. Setelah semua selesai, aku mengecek Hpku. Ternyata ada sebuah email
masuk. Email itu dari Chaca, sabahatku SMP. Dia memberi tahuku bahwa besok ia
tak bisa datang ke acara makan malam bersama keluargaku dalam acara ulang
tahunku karena dia sekarang tinggal bersama neneknya di luar kota. Aku sedih,
namun tak apa. Ada Ave yang akan menemaniku besok.
“Ibu.. Ibu dimana?”
“Ibu baru ke tempat temennya sayang, ada
apa?” tanya ayah.
“Ayah udah pulang?” tanyaku kaget.
“Hari ini ayah nggak ada meeting, jadi ayah bisa
pulang awal.” Jawab ayah santai. “Sini ayah mau bicara.”
“Apa yah?” tanyaku saat telah duduk
disamping ayah.
“kalau besok ayah nggak bisa ikut makan
malam bareng, Micha marah nggak sama ayah?” tanya ayah.
“Emang ada apa yah? Ayah besok harus
lembur lagi ya?” tanyaku dengan hati yang sedikit kecewa.
“Sepertinya begitu. Maaf ya sayang..”
ucap ayah sambil mengelus kepalaku.
“Kalau emang ayah sibuk, nggakpapa kok
yah.” Jawabku dengan senyum yang kupaksakan.
Ayah tak menjawab apapun. Kemudian kami
memilih untuk diam.
“Yah.. besok Chaca nggak bisa kesini,
tapi aku bawa temen baru aku yah. Dia juga baik banget, sama baiknya kayak
Chaha. Namanya Ave yah. Boleh kan yah?” tanyaku.
“Boleh sayang, itu kan harimu. Kamu bebas
ngajak siapapun, tapi jangan lupa bilang ke ibu, biar ibu nyiapin makanannya
pas.” Saran ayah.
“Iya yah..”
“Assalamualaikum..” ibu datang.
“Walaikumsallam..” jawabku dan ayah
bersamaan.
“Micha ke kamar dulu ya yah, sepertinya HP Micha ada telefon masuk.” Kataku sambil berdiri kemudian sedikit berlari ke kamar.
“Micha ke kamar dulu ya yah, sepertinya HP Micha ada telefon masuk.” Kataku sambil berdiri kemudian sedikit berlari ke kamar.
Kulihat tak ada telephon/pesan masuk,
mungkin tadi hanyalah sugesti saja.
“Micha..” pangggil ibu didepan pintu
kamarku.
“Masuk bu, nggak Micha kunci kok.” Kataku
dari ranjang tempat tidur.
“Obat udah diminum?”
“Udah kok bu. Kenapa?”
“Micha sibuk nggak hari ini?” tanya ibu.
“Enggak bu, ada apa?”
“Temenin ibu belanja untuk besok ya?”
pinta ibu.
“Tentunya bu. Jam berapa?” tanyaku.
“Yang penting sekarang kamu mandi, terus
siap-siap. Ibu akan siapkan makan untuk makan malam, jadi nanti setelah pulang
tidak terlalu ribet.”
“Iya bu.”
~~~
“Besok kamu pengen masakan apa?” tanya
ibu.
“Terserah ibu aja, tapi aku pengen besok
ada seefood bu.” Jawabku.
“Temenmu alergi seefood ngga?” tanya ibu
lagi.
“Dia suka banget bu, jadi aku mau seefood
ya gara-gara Ave.” Jawabku.
“Menu selain seefood apa lagi? Mau
dissert apa?” tanya ibu.
“Sisanya terserah ibu aja.” Jawabku.
Tak lama taxi yang kami tumpangi sampai
di mall yang kami tuju. Disini kita akan berbelanja sedikit pakaian dan sepatu
untukku, dan juga ibu akan membeli bahan untuk besok.
“Ibu mau pisah aja atau gimana?” tanyaku.
“Pisah aja ya sayang, kamu pasti nanti
akan mutah kalau ikut ibu belanja seefood.” Jawab ibu. “Uang buat kamu belanja
udah kan?” tanya ibu.
“Udah kok bu. Daa ibu.. nanti Micha
telfon ya.”
Sebelum ibu menjawab akutelah membalikkan
badan dan berjalan menjauhi ibu. Hari ini aku ingin membeli sepatu kets warna
abu-abu kombinasi pink. Namun aku juga pengen highthills warna biru tua. Aku
bingung memilih mana, alhasil aku mencari dress untuk besok malam. Dress
sederhana warna putih.
Setelah mendapat dress yang aku mau, aku
menuju toko sepatu. Aku masuk ke salah satu toko sepatu kets. Banyak model
dipamerkan pada toko tersebut. Aku semakin bingung untuk memilih. Aku membawa 2
model sepatu yang berbeda, aku suka dengan keduanya, tapi aku harus pilih satu.
“Butuh bantuan Mic?” tanya seseorang
mengagetkanku.
“Miky?”
“Hei.. kamu butuh bantuan?” tanya Miky.
“Iya nih, aku bingung pilih mana.
Sebenernya pengen antara kets ini sama highthills yang warna darkblue. Tapi
karena aku nggak nemuin highthills, jadi aku pilih ini, eh disini dibuat
bingung sama /kedua sepatu ini. Menurutmu mana yang bagus?” tanyaku.
“Kalo yang kombinasi biru kamu udah punya
kan?” tanya Miky.
“Iya sih..” jawabku.
“Ambil aja yang kombinasi pink, itu bagus
juga kok.” Saran Miky.
“Yaudah.. makasih ya Mik. Aku bayar ini
bentar.” Kataku.
“Aku tunggu disini.” Jawabnya.
Tanpa basa-basi aku segera menuju kasir
untuk membayar sepatuku. Kemudian balik untuk menemui Miky.
“Hey.. udah?” tanya Miky.
“Udah.”
“Karna aku udah nunggu kamu, sekarang
temenin aku buat makan, laper nih.” Ajak Miky sambil menarik belanjaan dari
tanganku dan menggandeng tanganku. “J-co mau?” tawar Miky.
“Boleh.” Jawabku.
Kemudian kita berjalan menuju lantai
dasar untuk membeli makan disana.
Aku disuruh Miky untuk duduk, sedangkan
ia memesan makanan. Sessat kemudian dia telah datang membawa makanan yang aku
suka. Tanpa ia bertanya lagi, ia sudah tau apa yang aku mau.
Tak ada obrolan selama kita makan,
menikmati donat ditemani alunan musik.
“Kamu sekarang gemukan..” kata Miky
membuka pembicaraan.
“Apa? Masak? Boong ah?!” tanyaku tak
percaya.
“Hehe enggak.. gitu aja paniknya minta
ampun. Ternyata masih nggak berubah ya?”
“Hehe.. kamu kesini sama siapa?” tanyaku.
Sesaat setelah itu aku teringat bahwa aku sama ibu.
“Tadi sama temen, sekarang dia lagi
belanja.”
“Cewek?”
“Iya, temen sekelas.” Jawab Miky.
“Loh kok kamu tinggal?” tanyaku lagi dan
mencoba sebisaku menutupi sakit hatiku.
“Habisnya dia lama, aku keburu laper,
yaudah aku duluan deh makan” velasnya.
“Kamu jangan gitu dong, kasian dia.”
“Nggak papa kok, dia juga memintaku buat
makan, karena dia tadi udah makan sebelum kesini.” Velasnya lagi.
“Yaudah itu terserah kamu, tapi aku harus
pergi sekarang, aku harus mencari ibuku.”
“Oke, hati-hati ya!”
“Kamu juga hati-hati ya, jaga temenmu
juga!” pesanku.
Jujur aku senang ketika melihatnya hari
ini, namun hatiku terasa teriris ketika lihat tau bahwa dia tak sendiri. Ia
bersama temannya.
“Halo.. Ibu dimana?” tanyaku dalam telepon.
“Ibu masih di supermarket. Sini deh susul
ibu, ibu di bagian buah. Ibu tunggu ya!” jawab ibu.
“Ya bu..”
Tanpa menoleh ke arah Miky, aku pergi begitu
saja. Aku tak mau melihat dia tahu bahwa aku terluka. Aku mau dia tahu bahwa
aku baik-baik saja.
Ketika kususul ibu, aku melihat ibu dengan troli
belanjaan yang sangat penuh. Aku heran kenapa ibu belanja banyak hari ini,
padahal besok makan malam hanya untuk 3 orang. Lalu belanjaan sebanyak ini
untuk apa? Yaudah sih ya, terserah ibu.
Ketika dirasa tak ada yang kurang, ibu mendorong
belanjaannya menuju kasir, aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Pak Taksi!” panggil ibu pada salah satu taksi
yang sedang melaju pelan di depan mall.
Sepertinya
sopir telah banyak tahu tentang isyarat orang memanggilnya,meski dengan gaya
yang berbeda-beda. Taksi itu akhirnya berjalan ke arahku dan ibu.
Sesampaiya di rumah, pak mardi, suami mbok nah,
orang yang bekerja dirumh kami pun datang membantu mengeluarkan barang
belanjaan. Beliau membawa semua barang kedapur atas komando ibu.
Aku pun langsung menuju kamar untuk berganti baju
dan cuci tangan, kaki serta membersihkan mukaku.
“Ah sial! Sepatuku nggak ada! Apa ketiggalan di
taksi ya? Atau di supermarket ya?” kataku pada diriku sendiri. Karena sudah
kucari berkali-kali aku tak menemukannya, akhirnya aku tanya pada ibu. “Ibu
tadi lihat belanjaanku nggak? Tas sepatuku nggak ada.” Aduku pada ibu.
“Ibu nggak lihat nak, coba cek di belanjaan ibu!”
“nggak ada bu.” Jawabku sambil manyun.
“Emang sepatu yang mana?” tanya ibu.
“Yang barusan Micha beli. Tadi aku bawa bareng
sama dress, tapi barusan aku cek Cuma ada dress aja buk.” Rengekku. “Terus
gimana bu?”
“Yaudah ikhlasin aja, mungin itu belum rezeki
kamu, kalau emang itu rezeki kamu, pasti akan balik. Kamu tenang ya! Sekarang
kamu makan aja sana!”
“Aku udah makan buk, tadi nggak sengaja ketemu
temen smp, yaudah makan bareng sekalian.” Jawabku.
“Yaudah kalau gitu. Istirahat aja! Jangan lupa
minum vitamin! Kalau mau minum susu panggil aja mbok Nah ya!”
“iya buk..” jawabku kemudian menuju kamarku.
Apa yang ibu perintahkan untuk kulakukan malam
ini kuturuti, aku segera menuju kamarku untuk istirahat, tak lupa aku meminum
vitaminku kemudian susuku. Sebelum aku memejamkan mata, kusempatka untuk
menghubungi Ave untuk datang besok malam ke rumahku untuk makan malam bersama
keluargaku. Ia mengiyakan apa yang aku mau. Dia memang sahabat baikku. Saatnya
istirahat.
Malam ini tepat pukul 00.00 WIB , handphoneku
berbunyi. Entah siapa tengah malam seperti ini yang menelphoneku, mungkin
penting fikirku, sehingga aku mengangkatnya.
“Hal..”
“Happy b’day to you, happy bday.. happy bday..
happy bday to you..” suara diujung telphone, suara yang sangat aku hafal. Tak
pernah berubah. Miky.
“Selamat ulang tahun Micha! Tamba dewasa, sayang
sama orang tua, more better. Harapan dan cita-cita semoga terwujud, aminn..
sekali lagi selamat ulang tahun!” lanjut Miky.
Sungguh aku terkejut, dia adalah pengucap pertama
di hari ulang tahunku yang ke-16 ini. Aku bahkan tak menyangka bahwa dia adalah
pengucap pertamaku. Aku fikir dia telah lupa tentang hari ulang tahunku.
Ternyata aku salah.
“wow! Makasih Mik.. Amin...” responku terkejut
meski dengan mata yang masih berat.
“Kamu pasti kagetkan?” tanyanya.
“Hehe iya. Habis tengah malem gini nelphon,
kirain kan ada emergency.” Jawabku asal.
“Maaf, kamu udah tidur ya?” tanyanya lagi. “Maaf
deh udah ganggu kamu.”
“Enggak papa kok. Hehe.. sekali lagi, makasih
ya?” ucapku.
“Makasih mulu? Pesta kapan nih?” tanya Miky.
“Besok malem sih mua makan malam gitu, tapi sama
keluarga aja. Kamu mau gabung?” tawarku.
“Eits... Kalo sama keluarga kamu aja sih aku
masih canggung. Enggak deh. Makan diluar bareng dong. Yaaa?? Sekali-kali.
Semenjak kita beda sekolah kita nggak pernah ketemu loh, apalagi makan bareng
lagi.”
“Maksa nih?” tanyaku dengan nada serius.
“Iyalah.”Jawabya enteng.
“Yaudah deh. Asal jangan malem, kalau malam tentu
aku tak dapat izin.”
“Oke! Aku vemput besok pagi ya! Em... jam 9 pagi
lah. Oke? Sip!”
“Iya bawel.” Jawabku sedikit kesal.
“Maaf udah ganggu istirahatmu. Selamat istirahat
lagi tembem.” Katanya.
“Iya gapapa. Makasih ya.. night!”
“Night too.”
Klik! Percakapan kami pun berakhir.
Beberapa menit setelahnya aku susah untuk
memejamkan mataku kembali. Mungkin karena aku terlalu bahagia di menit pertama
usia 16 ini? Entahlah. Ahirnya ku putuskan untuk menghubungi Miky lewat bbm,
mungkin ia belum tidur.
“Mik..”
Beberapa detik kemudian pesan yang kukirim telah
terkirim. Timbul perasaan waswas menunggu balasannya.
10 menit telah berjalan, namun ia tak kunjung
membalas bbm dariku. “Ah mungkin ia sedang mengerjakan sesuatu.” Pikirku.
Hampir setengah jam tak ada balasan masuk. Aku
mulai menyerah. Kucoba pejamkan mataku, namun aku tetap gagal. Kucoba
mendengarkan musik dari hpku, namun aku masih gagal.
Aku menyerah. Kuambil novel yang terakhir aku
beli, kulanjutkan bacaku. Tak lama mataku kembali merasakan kantuk. Tepat jam
01.00 aku kembali tidur.
~~~
Cahaya
mentari memaksakan dirinya masuk lewat sela-sela vendelaku membuatku memaksakan
diri untuk membuka mata.
Ku lihat jam di kamarku telah menunjukkan jam 8.
“Ya Tuhan! Aku bangung siangan. Dan satu jam lagi aku akan divemput Miky.”
Gumamku. Tanpa berfikir panjang lagi, aku bangun dan keluar kamar. Tak ada
siapapun orang dirumah.
Aku berjalan menuju dapur, ibu meninggalkan surat
di pintu kulkas. “Ibu harus pergi ke rumah teman, ayah ada meeting dari pagi,
mbok Nah dan Pak Mardi harus pulang karena kerabatnya ada yang meninggal. Kalau
kamu mau makan, delivery saja, uang kamu bisa ambil di tempat biasa.”
“Yaaah.. jadi aku akan dirumah sendiri sampe
sore. Yeah! Pasti membosankan.” Sambil mengambil air minum. “oiya! Miky sebentar
lagi akan vemput.”
Kubersihkan tubuhku. Hari ini aku bingung akan
pakai baju apa. Miky tak memberi tahuku akan makan dimana.
“Pakai baju santai aja. Seperti dulu waktu kamu
pergi sama aku ketika ke taman buat ngerjain tugas.” Bunyi smsnya.
“Baiklah..” kataku sambil melemparkan Hpku ke
ranjang tidur.
Kugunakan celana pendek diatas lutut warna
darkblue dengan kaos panjang warna putih. Dan kubiarkan rambutku bergerak
bebas. Tak lupa sedikit bedak untuk wajahku. Cukup.
Ting
tong! Bel rumah berbunyi.
“Miky” pikirku. Tanpa basa-basi kubuka pintu
rumahku.
”Mau masuk dulu?” tanyaku pada Miky.
“Kalau kamu belum siap aku akan tunggu kamu
didalam, tapi kalau kamu udah siap, sepertinya aku nggak usah masuk. Terlalu
lama. Matahari keburu terik.” Velasnya.
“Okay.. kalo gitu aku ambil HP sama tas dulu ya.”
Pamitku.
“Eits.. gausah bawa tas. Aku jamin kamu bakalan
ribet kalau bawa tas. Udah gini aja. Kamu cukup bawa HP buat jaga-jaga kalau
ada yang hubungin kamu.”
“Oke. Bentar ya!”
“iya..”
~~~
“Kita mau makan dimana sih? Aku udah laper nih.”
Keluhku.
“Kita cari bubur ayam dulu aja ya. Tempat tujuan
kita masih jauh. Aku nggak tega lihat kamu kelaparan seperti ini.”
“Iya.”
Tak lama kemudian Miky menghentikan motornya di
taman. Ya memang disini pada hari minggu seperti ini selalu ramai pengunjung dan
penjual makanan. Kebanyakan pengungjung
melakukan olahraga disini.
“Mau minum apa? Susu coklat hangat?” tanya Miky.
Kuanggukan kepalaku. Dan Miky kembali untuk
memesan bubur untuk sarapan kita pagi ini.
Miky kembali dengan kedua tangan membawa pesanan.
“selamat makan..” katanya.
“Makasih..” jawabku.
Bubur ayam disini terkenal enaknya. Tak jarang
heran kalau warung ini selalu ramai pengunjung.
“Kita mau kemana sih?” tanyaku.
“Lihat saja nanti. Nikmati prosesnya.” Jawabnya
enteng. “Yuk.. keburu panas” lanjutnya.
Kuulurkan tanganku dengan maksud supaya Miky
membantuku untuk berdiri, ternyata Miky masih seperti yang dulu. Dia hafal apa
yang akan aku lakukan. Ini salah satu kebiasaanku. Aku suka malas berdiri
setelah aku duduk.
“Kamu nggak berubah ya..” katanya pelan.
“Apa?”
“Ah enggak. Cuma bilang kamu tambah berat.”
Jawabnya bohong.
‘Kamu juga nggak berubah Mik, masih sama seperti
dulu. Kamu masih seperhatian dulu, meski aku sekarang bukan milikmu lagi.’
Ucapku dalam hati.
Perjalanan yang lumayan panjang telah kita
lewati, Miky bilang tak akan lamalagi kita akan sampai ke tujuan.
“Sekarang turun biarkan motorku ku titipkan
disini, kita jalan ke tempat tujuan kita.”
“Jalan kaki? Jauh nggak?” tanyaku.
“lumayan jauh sih, tapi aku jamin kamu nggak akan
bosen. Percaya deh!”
“Oke. Emang ada tempat makan disini? Kayaknya
enggak deh.”
“Udah deh kamu nurut aja. Yuk!” sambil menarik
tangan kananku.
Aku tak bisa melepas genggamannya. Tangannya menggenggamku
sangat erat. Jujur, meskipun aku mencoba melepasnya, namun hati kecilku nyaman
ketika berada posisi ini.
“Kayaknya kita udah jalan jauh, tapi kapan nyampe
sih Mik?” aku sudah mulai kelelahan.
“Udah deh, jangan ngeluh terus. Mau istirahat
dulu?” tanyanya.
“Percuma istirhat, aku nggak bawa minum.” Keluhku
lagi.
“Aku bawa kok, aku udah siapin semua buat kamu.
Nih minum!” sambil mengulurkan sebotol air putih.
“Makasih Mik..” kuminum air putih yang ia
berikan. “Baru sadar ternyata pemandangan disini indah ya..”
“Yah baru nyadar? Makanya jangan ngeluh terus!”
Klik! Kamera pun telah menangkap cahaya dengan baik.
“Miky!!! Hapus nggak?!” teriakkku.
“Nggak! Sumpah kamu lucu banget.”
“Aaa velek banget, nggak ah. Hapus!” perintahku.
“Enggak mau Micha tembem. Lihat deh! Pipimu
tembem banget.” Kata Miky sambil melihatkan fotoku.
“Eits.. aku tembem bangeeeet...”
“Iya, tembeeeemmmmmm” sambil mencubit pipi
kananku.
“aaaa! Sakit Mik!”
“Habis kamu gemesin, yaudah aku cubit aja.”
“Nyebelin ih..” protesku.
“Maaf..” sambil mengelus pipiku dan menatap
mataku tajam. Seketika aku tak dapat melakukan apapun. Aku diam terpaku menatap
bola matanya.
“Yukk lanjut perjalanan! Inget ya, kamu nggak
boleh ngeluh!”
“Enggak!” tolakku.
“Terus mau ngapain? Masak kita udah jalan sejauh
ini tapi kamu minta kita buat balik?”
“Jangan potong dulu dong. Aku nggak mau lanjut
perjalanan sebelum kita foto dulu. Hehe..” jawabku.
“Dasar! Kamu aja ya yang aku foto?” tawar Miky.
“Enggak mau, aku maunya kita yang foto.” Jawabku.
“Lah terus yang fotoin siapa?” tanya Miky lagi.
“Kamu kan bawa Threepot.” Jawabku enteng.
“Oiya. Tunggu bentar ya!”
Beberapa foto berhasil kami abadikan disini.
Tingkah kinyol kami telah disimpan dalam memori, memori fikiranku dan kamera
kesayangan Miky.
Terik mentari mulai menyiksa kulitku, dan kami
baru saja sampai tempat tujuan. Tempat ini masih benar-benar sepi. Alam masih
sangat bersahabat. Kita bisa melihat perkotaan dari sini. Dapat melihat alam
buatan Tuhan yang permai. Ilalang yang tumbuh tinggi menambah keindahan disini.
Berbagai moment berhasil kami abadikan disini.
Berdiri ditengah-tengah ilalang sangatlah mengasyikkan. Angin berhempus cukup
kencang. Ilang yang ada bergerak bersama angin.
“Kamu kedinginan?” tanya Miky.
“lumayan, bersyukur masih ada panas.” Jawabku.
Miky melepas jaketnya, “Pake nih!” sambil
mengulurkan jaketnya kepadaku.
“Kamu pake aja! Kamu kan Cuma pake lengan
pendek.”
“Micha.. jangan ngeyel dong! Aku nggak mau kamu
bentol-bentol karena kedinginan. Pake ya!” sambil mengenakan jaket di
punggungku.
Aku tak tau harus menolak dengan cara apa lagi.
Dia pasti begini, mengorbankan dirinya untukku, sejak dulu.
“Boleh pinvem bahu?” tanyaku.
Tanpa memberi jawaban, ia langsung mendekatkan
dirinya kearahku. Menyediakan bahunya untukku.
“Aku capek Mik.” Kataku.
“Aku juga capek, tapi ya inilah jalannya. Kita
harus hadapi semua sama-sama, meski sekarang kita tak satu.”
“Tapi kita akan selalu sama-sama kan?” yakinku.
“Ya, kita akan terus sama-sama. Aku akan mencoba
selalu ada untukmu.” Menggenggam tangan kananku.
“Aku pegang janjimu.”
Detik seolah berjalan lebih cepat ketika aku
bersamanya. Sekarang mentari telah tepat berada diatas kepala kami. Terik yang
cukup membuat kulit kami terbakar.
“Balik yuk? Aku laper nih” ajak Miky.
“Boleh.”
Miky membereskan barang-barang yang ia bawa hari
ini. Tak lupa kamera kesayangannya. Ia selalu membawa kameranya ketika
bersamaku, dan karena Miky lah, aku jadi mengerti dan tertarik akan dunia
fotografi.
Jalan kaki menuju tempat penitipan motor sangat
aku nikmati, suguhan alam yang indah membuatku lupa akan rasa capekku. Ada miky
disampingku seoah menjadi obat dari rasa lelahku.
Entah sekarang aku akan dibawa kemana lagi, aku
tak tau apa yang akan ia tunjukkan untukku.
“Makan apa aja mau?” tanya Miky.
“Mmm.. yaudah nggakpapa.” Jawabku sedikit tak
yakin.
“Sakitmu tak akan kambuh/lebih parah, semua akan
baik-baik saja.” Kata Miky mencoba menenangkanku.
Dari mana Miky tau? Bahkan aku tak pernah cerita
kepadanya, aku hanya cerita sama Ave. Namun aku tak mempermasalahkan, apa yang
ia katakan, dari mana ia tahu. Bagaimanapun juga, suatu saat ia akan tahu.
Meski bukan dari mulutku. Ini hanyalah masalah waktu, entah kapan waktu akan
mengikat rahasia itu. dan ketika waktu telah bosan untuk menjaga, maka semua
akan tahu.
Kita makan di masih daerah tersebut. Tempatnya
selalu membuatku tak pernah bosan. Aku selalu menikmatinya. Tak kuberikan
kesempatan begitu saja, aku akan jarang kesini. Beberapa potret alam disini
berhasil ku abadikan dengan kamera Miky.
“Siap untuk surprice selanjutnya?” tanya Miky.
“Yaah, aku siap!” jawabku penuh keceriaan.
“Kamu malam ini ada acara nggak?” tanya Miky
lagi.
“Ada sih, nanti ada makan malam.” Jawabku
bingung.
“Oke. Yuk keburu sore.”
Untuk kejutan yang selanjutnya, kita menggunakan
motor sebagai transportasinya.
“Udah lama kita nggak kepantai. Dan bentar lagi
kita akan sampai pantai. Masih ingat dengan jalan ini? kamu tahu kan kita akan
kemana?” tanya Miky.
Seketika fikiranku melayang. Memikirkan jalan
yang saat ini ku tempuh. Aku tak asing dengan jalan ini. semua masih seperti
dulu.
“Ya aku tahu kita akan kemana.” Jawabku sambil
mengalihkan pandanganku ke sekelilingku.
“Tapi kali ini kita tak main air, aku tahu kamu
tak bawa ganti. Aku tak mau kamu kedinginan,” velasnya. “Meski sebenarnya aku
menginginkan itu.” lanjutnya lirih.
“Maksud kamu?” tanyaku.
“Sampai” kata Miky pura-pura tak mendengar
pertanyaanku.
“Turun. Kita duduk saja disana.” Sambil menunjuk
ke arah selatan.
“Lihat, senja disana. Indahkan? Aku masih ingat,
kamu suka dengan senja kan?” tanya Miky.
“Ya, indah sekali. Makasih udah membawaku melihat
senja. Aku sangat merindukan senja.” Kataku.
“Merindukan senja atau merindukan aku yang
mengenalkanmu akan indahnya senja?” tanya Miky sambil melihatku tajam.
“Keduanya.” Jawabku simpel, masih denga pandangan
lurus ke arah senja.
“Kamu tahu maksud aku meginginkan kamu
kedinginan?” tanya Miky.
“Entah..” jawabku polos.
“Karena aku ingin memelukmu saat kamu kedinginan,
aku ingin memakaikan jaketku untukmu. Aku ingin menggenggam tanganmu.” Jawab
Miky.
“kenapa kau ingin melakukannya?”
“Karena aku masih sayang kamu, selalu sayang
kamu, dan selamanya akan sayang kamu.” Ucap Miky sambil menggenggam tanganku.
Entah apa yang membuatku melakukan ini, aku
menyandarkan kepalaku pada pundak Miky. Sejujurnya aku kaget dengan apa yang ia
ucapkan. Antara bahagia dan bingung.
“Selamat ulang tahun Micha.” Sambil mencium
keningku. “Semoga apapun yang kmau mau bisa terwujud. Kamu dapet orang yang
lebih pantas buat kamu daripada aku. jangan pernah lupakan aku.”
“Makasih Mik. Biarkan aku bersandar dipundakmu,
biarkan aku nyaman disini. Karena aku tahu, aku mungkin tak akan merasakan hal
seperti ini lagi. Aku pasti akan merindukan seperti ini.” kataku. “Kita telah
memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Kita saat ini telah punya dunia sendiri,
kita telah menentukan pilihan. Semoga kita diberi jalan yang mudah untuk
melewati jalan yang telah kita pilih. Semoga tak ada penyesalan di akhri. Satu
yang harus kamu ingat, bahwa aku selalu sayang kamu dan aku akan berusaha ada
buat kamu. Entah saat itu kita sebagai apa, yang terpenting adalah aku akan
selalu ada buat kamu.”
“Dan aku akan melakukan hal sama.”
Kita sama-sama diam, larut dalam fikiran kita
masing-masing. Mata kita tak akan beralih dari senja, karena kita sama-sama
menyukai senja. Meski dengan bagian yang berbeda. Aku menyukai bagian senja
saja, dan Miky menyukai senja dan langit malam.
“Kamu mau balik kapan?” tanya Miky.
“Sekarang. Aku nggak mau telat sampai di rumah.”
Jawabku.
“Micha, kamu kedinginan?” tanya Miky.
“Aku nggak papa kok. Tenang aja. Balik yuk?”
“Beneran kamu nggak papa?”
“Ya, seperti yang kamu lihat.” Jawbaku enteng.
Pegangan ya! Kalau kamu merasa dingin, peluk aku
lebih erat, kamu akan merasa lebih hangat.
Dan sepeda yang kita naiki telah melesat melewati
jalan yang cukup sepi. Sesekali berpapasan dengan mobil dan sepeda motor.
Pemandangan dimalam hari tampak lebih indah disini. Bintang terlihat sangat velas,
dan lampu kota yang gemerlap menambah indahnya malam.
“Ini buat kamu. Sekali lagi, selamat ulang
tahun.”
“Ini apa?” tanya Miky. Buka aja!” perintahnya.
“Sepatu? Bagaimana bisa ini ada di kamu?”
tanyaku.
“Karna kamu meninggalkannya waktu kita makan,
kamu buru-buru cari ibumu.” Jawab Miky enteng.
“Oh baiklah. Makasih Mik. Makasih juga buat hari
ini.”
“Iya sama-sama. Aku balik dulu ya.”
“Eh Miky..” sapa ibu.
“Iya tante. Selamat malam tante..” sapa Miky.
“Udah lama tante nggak lihat kamu, kamu kemana
aja? Kamu juga jarang main kesini sekarang. Jangan bilang kalau pertemanan
kalian berhenti karena kalian pisah sekolah ya.” Pesan ibuku.
“Ibu apa sih. Miky jarang kesini karena dia sibuk
bu, udah ibu masuk aja, di luar dingin.” Kataku.
“Oiya Mik, jangan pulang dulu ya! Gabung makan
malam saja, kamu nggak keberatankan?” tanya Ibu lagi.
“Makan malam tante? Tapi kan ini acara keluarga,
masak saya ikut? Apa enggak ganggu?”
“Kamu itu, jangan canggung gitu dong! Udah masuk
sekarang. Micha.. Miky diajak masuk ya!” perintah ibu.
“Iya bu. Oh iya bu, Ave udah kesini belum?”
tanyaku.
“Belum, tadi udah ibu telphon, katanya udah
dijalan. Mungkin macet.”
“Oke. Makasih bu.”
“Micha kamu mandi dulu sana, Miky kamu juga mandi
sekalian aja. Kalau tidk salah Micha masih menyimpan bajumu yang kamu tinggal
disini.”
“Tapi tante..” potong Miky.
“Udah sana, kamu mandi di kamar mandi tamu ya,
tahu kan?”
“Iya tante, makasih tante.”
Tingtong.
Bel rumah berbunyi, dengan
segera ibu membukakan pintu.
“Permisi tante, saya Ave, teman Micha.”
“Oh jadi ini yang namanya Ave, masuk sayang!
Micha baru aja pulang habis main. Dia baru mandi. Kamu tunggu dulu ya. Sambil
nunggu ayahnya pulang juga.”
“Loh? Bukannya om tidak bisa ya tante? Micha
pernah crita begitu.” Tanya ave bingung.
“Itu Cuma rekayasa aja, biar buat kejuatan untuk
dia.”
“Baik tante.”
“Masuk saja ke kamar Micha kalau kamu mau.
Kamarnya ada di sana.” Sambil menunjukkan kamar Micha. “Tante mau mempersiapkan
makanan dulu.” Pamit Ibu Micha.
“Saya ikut tante aja, bantu tante didapur.” Kata
Ave.
“Kamu kan udah cantik, tante nggak mau kamu
kotor. Kamu masuk saja ke kamar Micha, kamu belum ketemu diakan? Sudah sana!”
“Tapi tante..” cela Ave.
“Sudah.. ini tugas tante.”
“Baiklah tante.”
Ave terkejut didepan pintu kamar ketika melihat
ada seorang laki-laki dikamar Micha. Setahu Ave, Micha tak punya saudara
laki-laki, dan kalau itu ayahnya, itu tidak mungkin.
Ave tak mau pusing, ia ingin menunggu di depan
saja. Dan saat ia ingin membalikkan badan, ia telah tertangkap basah oleh
laki-laki yang ada disana. Ia hanya tersenyum lalu mencoba membalikkan badan.
“Tunggu! Masuklah jika kau ingin bertemu Micha!”
kata lelaki yang ada didalam.
“Oh tidak, aku akan menunggunya diluar saja.”
Jawab Ave.
“Baiklah.. dia akan segera menyusul.”
Tanpa berfikir panjang, Ave kembali ke ruang
tamu.
“Kamu tadi bicara sama siapa?” tanya Micha saat
keluar dari kamar mandi.
“Oh.. aku tidak tahu.” Jawab Miky dengan
entengnya.
“kau ini. Gantian dong Mik, aku mau beresin muka
sama rambut nih.” Keluh Micha.
“Sabar cinta, bentar lagi ya.” Jawab Miky ngasal.
“Mukamu sekarang lebih bersih, pake apa kamu?
Jangan bilang kamu perawatan!” kataku kesal.
“Ngaco kamu! Enggaklah. Sebenernya udah dari dulu
mukaku cakep, kamu aja yang nggak nyadar.”
“Dasar! Udah gantian!”
Miky menurutinya kemudian duduk diranjang
tidurku.
“Jangan pake makeup berlebih! Aku lebih suka kamu
yang apa adanya gitu.” Celoteh Miky.
“Ini Cuma bedak saja. Tipis juga kok.” Sanggahku.
“Terserah kau, apapun dan bagaimanapun kamu, kamu
akan tetap cantik di mataku. Dan hatimu selalu baik menurutku.”
“Udah deh, jangan gombal.”
“Aku serius”
“Terserah deh. Yuk keluar, aku sudah lapar.”
“Tunggu, berikan aku sedikit parfum.” Pinta Miky
“Tuh di meja.” Sambil berlalu begitu saja.
Micha tak menyadari bahwa Ave telah datang, ia
tak menengok pada ruang tamu, ia keluar ke halaman belakang setelah ia tahu
bahwa makan malamnya belum sepenuhnya siap. Ia duduk di gazebo sambil menikmati
langit malam.
“Indah kan?” Tanya Miky.
“Yaa.. cukup indah.” Jawabku tanpa memalingkan
wajah ke arahnya.
“Mbem..” panggil Miky pelan.
“Apa?”
Miky tak segera menjawab, ia seolah sedang
memikirkan sesuatu.
“Micha.. makan malam sudah siap.” Panggil ibu
dari arah tempat makan.
Tanpa perlu komando, kita berjalan menuju ruang
makan.
“Oh hai Ve. Kapan kau datang?” tanyaku kaget.
“Kenapa kamu tak masuk ke kamarku?”
“Sorry, tadi ada dia, jadi aku tak enak saja.”
Jawab Ave jujur.
“Oh dia, perkenalkan, dia adalah Miky.”
“Hai.. Ave” sambil mengulurkan tangan.
“Miky. Senang berkenalan denganmu.” Membalas
jabat tangan dari Ave.
“Silahkan.. jangan sungkan, anggap rumah sendiri
ya nak Ave.” Kata ibuku.
“Iya tante..”
Klik. Mati lampu. Tiba-tiba listrik yang ada di rumah
mati. Micha yang tak suka dengan gelap mulai merasa takut.
“Buk..” ucap Micha sedikit gemetar.
“Kamu mendekat ke Miky! Ibu akan cari lilin di
warung depan. Persediaan di rumah habis. Nak Ave bisa temani tante?”
“Iya tante.”
Ibu dan Ave pergi ke warung untuk meninggalkan
kita didalam.
Micha yang sejak mati lampu telah takut, ia terus
menutup mata. Ia tak berani membuka mata, sedikitpun.
“Mik.. kumohon, jangan pergi. Mendekatlah!”
pintaku.
“Aku tak akan membiarkamu sendiri. Tenanglah!”
kata Miky. “Genggam tanganku jika kamu ingin melakukannya.”
Beberapa menit berlalu, dan itu sangat menyiksa
untukku. Aku yang takut akan gelap merasa ini telah terjadi beberapa jam. Aku
sudah tak kuat lagi. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak mau terlihat
rapuh.
“Aku ingin ke toilet, bisa kamu lepas tanganku?
Sebentar saja, aku sudah tidak tahan.” Pinta Miky saat ia mengetahui seseorang
berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya. Ia sadar bahwa ini hanya
sebuah rekayasa.
“Tapi Mik..”
“Aku janji tidak akan lama. Atau kamu mau ikut
denganku?” godha Miky.
“Ah enggak! Jangan lama-lama ya!”
“Iya bawel.” Sambil beranjak dari kursinya dan
berjalan ke arah orang yang ada di pintu, ternyata itu ayah Micha.
“Iya om?” tanya Miky sedikit berbisik.
“Kemari, kita buat kejutan untuk dia. Tapi
sebelumnya kita kerjai dia.”
“Baik om. Jadi, apa rencana om?”
“Simpel, jadi listrik sengaja om matikan. Dan
kita semua biarkan ia sendiri disana. Om yakin sebentar lagi dia akan
mencarimu, ia pasti akan menangis ketakutan. Dan ketika ia menangis, kamu
datang. Namun, hanya suaramu. Nanti kita pake boneka ini untuk duduk di
tempatmu, maka ia akan meraih tanganmu, namun tangan bonekalah yang ia raih.
Dia akan semakin ketakutan.” Velas ayah Micha. “dia akan semakin manangis dan
berteriak. Tak perlu lama-lama membiarkan ia begini. Lalu kita masuk sama-sama,
om akan membawa kue yang ini, dan kamu yang itu. biar tante dan temannya yang
berdiri disamping kita, mereka akan membawa kado untuk dia. Bagaiman?”
“Baik om.” Jawab Miky semangat.
“Mik.. Miky! Jangan lama-lama.” Teriak Micha.
“Jawablah, ‘sebentar, ini masih mules’!”
“Bentar Mbem, perutku mules.” Jawab Miky dengan
intonasi yang ia buat-buat.
“Mik...” panggil Micha sambil menangis.
“Letakkan ini di kursimu” sambil memberikan
boneka beruang yang cukup besar.
“Aku disini.” Kata Miky.
Semua berjalan sesuai rencana. Ia meraih tangan
Miky, namun tangan bonekalah yang ia raih. Dia semakin ketakutan. Ia semakin manangis dan berteriak.
“Semua siap?” tanya ayah Micha.
Kami bertiga menganggukkan kepala. Kemudian lilin
yang ada pada atas kue pun dinyalakan. kami berjalan menuju meja makan sambil
bernyanyi lagu selamat ulang tahun versi Bahasa Inggris.
Sedikit remang-remang, Miky dapat melihat Micha
menoleh ke arah kami. Ia masih dengan wajah yang ketakutan, namun kali ini
telah dicampuri rasa terkejut. Micha telah berani membuka mata.
Micha masih tetap menangis, entah menangis karena
takut atau karena haru.
Setelah lirik lagu tiup lilin berakhir, Micha
memejamkan mata. Ia sedang make a wish.
Setelah lilin ditiup, lampu yang padam kemudian
menyala dengan terangnya.
“Selamat ulang tahun sayang.” Kata ayahnya.
“Makasih yah.” Jawab Micha.
“Selamat hari kelahiran putriku.” Kata ibunya.
“terimakasih bu.”
“Lagi nih, selamat ulang tahun mbem. Cepet kurus
ya!” ucap Miky.
“Makasih.”
“Selamat ulang tahun Micha..” sambil
menghampirinya dan memeluknya.
“Makasih Ve.”
“Potong kuee..” kata ibu. “Kasih buat siapa
potongan pertama itu.”
Setelah dipotong, ia hanya meletakkan diatas
meja. Semua bingung.
“Kenapa? Ada yang salah ya?” tanya Micha.
“Potongan pertama kenapa kamu kasih di meja?”
tanya ayah bingung.
“Siapa bilang? Ini akan ku makan.” Jawab Micha
asal. “Siapa suruh ngerain aku?”
“Maaf..” kata Miky.
“Nggak nerima maaf. Sorry..” lalu duduk dengan
sombongnya.
Semua saling pandang kemudian tertawa, begitu
pula dengan Micha.
“Kalian lapar nggak? Aku lapar, jadi aku makan
duluan ya!” ucap Micha membuat semua heran kemudian tertawa. Akhirnya mereka
ikut makan bersama Micha.
“Bu.. sahabatku ada yang jahat banget sama aku.”
kata Micha di sela-sela makannya.
“Emangnya kamu kenapa?” tanya ibu.
“Tadi siang aku diajak pergi kan buk, terus dia
sebelumnya Cuma bilang kalo keluar biasa, yaudah aku pake celana sama kaos aja,
eh ternyata diajak main jauh buk. Panas-panasan lagi, mana aku nggak bawa
sunblock coba. Tambah item kan buk?”
“Emang siapa?” tanya ayah.
“Uhhuk.. nyindir” sela Miky pura-pura tersedak.
“Kamu kenapa Mik? Tuh minum, makanya kalau makan
pelan-pelan, dinikmati.” Kata Micha.
“Kalian tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah.”
Kata ibu sambil geleng-geleng. “Lanjutin makannya.”
Semua kembali seperti keadaan semula. Semua
menikmati makan malam masing-masing.
Setelah makan malam berlalu, Miky dan Ave
terpaksa pulang bersama karena vemputan Ave tak kunjung datang, dan karena desakan
dari ibu Micha.
“Makasih
ya..” kata Ave pada Miky saat sampai di depan rumahnya.
“Sama-sama. Aku balik dulu ya. Bye!”
Hari ini sepenuhnya milik Micha. Miky memberikan
kenangan lagi untuk Micha. Jauh di lubuk hati Micha, ia sangat bahagia akan hal
ini. kejutan yang diberikan membuat Micha semakin mengerti betapa hangatnya
hubungannya dengan orang yang ia sayang.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti dulu.
Semakin hari, komunikasi yang terjalin dengan Miky semakin renggang. Jarang
kita melakukan komunikasi. Entah apa yang menjadikan semua ini terjadi, janji
yang pernah ada mungkin telah mulai tertutup dengan jarak.
Singkat kata, singkat cerita, aku semakin deket
dengan kak Choco. Dia adalah orang yang baik, perhatian, manis, suka nyebelin
tapi ngangenin, gemesin, dan yang satu ini yang selalu aku cari dari setiap
orang yang dekat denganku, nyaman. Ia selalu dapat membuatku nyaman dengannya.
Dia selalu dapat membuatku semangat dalam menjalani hidup. Dia adalah orang
yang bijak yang selama ini aku kenal, ia sangat dewasa dalam menghadapi setiap
hal. Ia sering menggunakan hatinya untuk menghadapi wanita. Dan itu yang
membuatku semakin tertarik padanya. Meski banyanganya masih jelas terngiang di kepalaku.
“Pagi..” sapa Choco di gerbang masuk ke dua.
“Pagi juga kak.” Jawabku tak kalah semangat
dengan dia.
“Kesambet apanih? Tumben kamu semangat banget.”
Sindir Choco.
“Hehe enggak lah kak, habis mimpi indah aja, jadi
ya seperti inilah.” Jawab Micha enteng.
“Mimpi apa sih? Cerita dong!”
“Kalau Micha cerita, nanti ada yang kepedean.
Micha masuk kelas dulu ya kak, bye!”
“Nanti aku tunggu di kantin ya istirahat
pertama.” Kata Choco dengan sedikit berteriak.
Aku hanya menjawab dengan memberi isyarat melalui
kedipan mataku.
Jam perlajaran berlalu begitu cepat. Matematika
yang membuatku cukup pusing akhirnya berakhir. Aku harus bertemu dengan Choco
sekarang.
Kak Choco : Aku tunggu kantin
tempat biasa ya, ada yang mau ku kasih. Gpl :p
Tanpa berfikir panjang, aku penasaran dengan apa
yang Chocky akan berikan untukku. Aku segera pergi meninggalkan kelas.
“Mau kemana Cha?” tanya Ika, teman sekelas Micha.
“Ke kantin, ada janji sama temen. Daa..”
“Yah..” respon Ika dengan sedikit lesu.
Micha tak memperdulikan Ika. Sejujurnya
ia telah punya janji lebih dahulu, jadi mau bagaimana lagi. Ia harus memenuhi
janjinya.
“Lama banget sih deg?” protes Choco.
“Ya maaf, tadi ngobrol dulu sama temen.
Hehe..”
“Nih buat kamu. Eh buat kita sih sebenernya. Ini
dari mamaku. Tadi beliau nitip ini buat kamu, tapi gara-gara aku lapar ya kita
bagi sama-sama.” Velas Choco.
“Loh? Bukannya aku baru ketemu sekali ya sama
mamamu? Kok mamamu baik banget sih?”
“Iya dong. Mamaku emang gitu. Kamu mau minum apa?
Aku nggak bawa minum.” Tanya Choco.
“Apa aja deh.”
“Oke, bentar ya.”
Tak selang lama, Choco datang membawa dua botol
air minum. Bekal yang dibawa Choco telah habis kita makan. Mamanya membawakan
sandwich untuk makan siang kami.
“Nanti ada acara nggak?” tanya Choco.
“Belum tahu sih, kenapa kak?” tanyaku.
“Pengen keluar aja, temenin ya?”
“Emang mau kemana?” tanyaku lagi.
“Ya pokoknya ada, gimana? Kalau kamu mau sekalian
bayar janjiku ke kamu yang dulu itu.”
“Emm.. nanti aku kasih tahu aja ya kak, nanti aku
kabari waktu istirahat kedua.”
“Oke. Kamu ke kelasku ya?”
“Iya.” Jawabku. “Makasih ya kak, sering-sering
bawa bekal terus aku dibagi lagi. Hehe.. Micha balik kelas dulu ya.” Pamitku.
“Iya. Jangan lupa ke kelasku ya!” ingat Choco.
“Oke. Daaa..”
Semenjak
Choco datang, aku tak sedih lagi. Aku tak terlalu memikirkan tentang perpisahan
yang masih berat ini. Meski kadang hal itu masih teringat velas, meski sayang
yang aku miliki masih begitu kuah untuknya, dan semua kenangan yang sering
membuatku pusing, Choco datang dengan sejuta cara untuk membawaku bangkit. Ia
menawarkan banyak warna lagi untuk hidupku.
Banyak hal yang aku dapatkan dari Choco, mulai
dari bagaimana cara merelakan, melepas, mempertahankan, mengikhlaskan dengan
hati yang utuh. Ia mengajariku dengan perlahan, tanpa harus dengan kasar. Ia
mampu membuat orang yang ada di dekatnya selalu merasa nyaman.
“Permisi kak, maaf Kak Choco ada?” tanyaku pada salah satu teman sekelasnya.
“Ada, itu di dalam. Masuk saja!” jawabnya.
“Makasih kak.” Kemudian berjalan masuk kelas Choco.
“Kak..” Panggilku saat mengetahui bahwa Choco
sedang asyik dengan Hpya.
“Oh hai Cha. Ku kira kau tak menepati janjimu.
Aku telah menunggumu.” Kata Choco.
“Ups maaf.. Aku bisa, tapi anterin pulang dulu ya
kak?!”
“Iya. Aku tunggu di gerbang depan ya nanti. Oiya,
ini ada titipan lagi, tadi ketinggalan di kelas.” Sambil berusaha mengambil sesuatu
di dalam tasnya. “Ini.” sambil memberikan sebatang coklat untukku.
“Makasih kak.” Ucapku.
“Kalau yang ini bukan dari mama.”
“Terus dari siapa?” tanyaku bingung.
“Dari aku dong, siapa lagi?”
“Hehe.. makasih ya kak. Micha kembali ke kelas
dulu.” Pamitku.
“Iya.”
~~~
“Kamu mau nonton nggak Cha?”
“Boleh, lama udah enggak nonton.”
Akhirnya sore itu kami memutuskan untuk pergi
nonton. Kita pergi begitu saja, tanpa rencana sebelumnya. Kita juga belum tahu
akan menonton apa, kita ahnya modal pergi begitu saja.
Dua buah tiket, satu porsi popcorn ukuran medium
dan dua botol air mineral telah siap dibawa masuk ruang bioskop.
Sebuah film dengan genre romance baru saja dimulai. Micha dan Choco menikmati film dengan
ditemani popcorn yang sengaja Micha letakkan diantara mereka. Mereka mengambil
popcorn secara bergantian meski tanpa ada konfirmasi sebeumnya. Sesekali mereka
mengambil popcorn secara bersamaan, dan ketika hal itu terjadi, ta jarang
mereka saling menatap kemudian tersenyum. Biasanya Micha yang mengalah untuk
mengambil popcorn. Namun, berbeda halnya saat ini. ketika tangan mereka bertemu
pada saat yang sama, tak ada satupun yang mengalah untuk mengambil di akhir.
Tangan mereka tetap disana, bergandengan. Tak ada satupun dari mereka yang
berani menengok. Mereka hanya berfokus pada layar, tak ada diantara mereka yang
saling menatap. Hal tersebut terjadi hingga berakhirnya pemutaran film.
“Nunggu udah nggak rame lagi ya? Baru kita
keluar.” Kata Choco.
“Iya.” Jawabku sambil membereskan barang-barang.
Ketika ia berdiri, aku menirukannya, kemudian
berjalan dibelakangnya menyusuri kursi-kursi yang ada.
“Micha lapar kak, makan yuk?” kataku.
“Iya.”
Kami memilih salah satu restoran yang ada disana.
Menikmati hidangan berdua. Tak jarang Choco berulah konyol sehingga membuat
Micha tertawa. Dan sejak saat itu, kami semakin dekat.
Setelah perut kami terisi, kami berkeliling mall.
Tak jarang kami masuk ke toko hanya untuk melihat, kemudian pergi lagi. Hingga
kami lelah, dan memilih untuk pulang.
Setiba di rumah, langit cerah telah berubah
menjadi gelap. Dengan bintang yang bertaburan diantara awan, menjadikan gelap
tak buruk yang difikirkan. Mereka membuat gelap menjadi lebih indah.
Mawar merah yang diberikan Choco untukku akan
kusimpan dalam kamarku, akan ku letakkan dalam gelas kecil dan ku beri air,
biarkan mawar itu sedikit lebih lama bertahan hidup.
Terdengar pintu kamarku diketuk, dan disusul
dengan “Boleh masuk?”
“Iya.” Jawabku dari dalam. “Masuk aja, nggak
Micha kunci.”
“Hai..” sapa Ayah.
“Ada apa yah?” tanyaku saat ayah telah duduk di
sampingku.
“Cuma mau ngobrol aja. Naik yuk? Ada yang ayah
mau tanya ke kamu. Sepertinya lebih enak kalau ngobrolnya diatas. Malam ini
langit tampak indah.” Tawar ayah.
“Boleh. Ayah naik duluan aja, Micha mau ke toilet
dulu.”
“Ok”
Saat ayah telah naik, aku bergegas ke toilet dan
setelah itu ke dapur untuk mengambil sebotol minuman dingin dan teh hangat
untuk ayah.
“Ada apa sih yah?” tanyaku penasaran.
“Kamu nggak ada masalahkan sama Miky? Kok ayah
lihat, kalian sekarang jauhan. Miky juga jarang main lagi.” Tanya ayah
“Enggak kok yah. Ya mungkin karena dia banyak
tugas, kan sekarang juga kita beda sekolah, jadi ya nggak selalu punya tugas
yang sama.” Jawabku bohong.
“Bagus deh. Ayah fikir persahabatan kalian pecah.”
“Ayah jangan gitu dong. Mana mungkin kita pecah?
Ayah tahu sendirikan kita gimana? Hehe..”
Ayah hanya tersenyum. “Micha..”
“Iya yah?” sambil menengok ke arah Ayah.
“Yang tadi main sama Micha siapa? Pacar ya?”
tanya ayah menggoda.
“Bukan! Bukan! Itu bukan pacar Micha.” Jawabku
sedikit salting, namun memang begitulah keadaannya. Aku dan Choco memang dekat,
namun tak ada hubungan yang mengikat. Entah memang tidak atau belum. Biar waktu
yang akan berbicara.
“Ya kalau bukan pacar kenapa kamu semerah itu?”
goda ayah lagi.
“Ayah apaan sih??” jawabku semakin salah tingkah.
“Dia namanya Choco. Choco itu kakak kelas Micha. Kita Cuma temenan yah. Tadi
kak Choco mita ditemenin nyari buku sama barang.” Velasku.
“Dia perhatian ya?” tanya ayah.
“Ya begitulah. Kak Choco baik banget yah. Banyak
temen-temen Micha yang naksir sama dia. Tapi ya gitu deh, nggak ada yang
nyantol sama kak Choco. Padahal temen-temen Micha yang naksir sama dia
cantik-cantik loh yah.”
“Ya dan akhirnya kamu yang beruntung. Kamu
beruntung mendapatkan perhatian darinya. Ayah suka sama dia. Kapan ajak main
kerumah?” goda ayah.
“Ayah apaan sih?”
“Kenalan sebagai teman kamu sayang..” sahut ayah.
“Iya deh, nanti Micha fikirkan dulu bagaimana
caranya. Micha ke kamar dulu ya yah, capek. Daaa ayah”
“Mimpi indah sayang. Besok pagi jogging sama ayah
ya.”
“ok” jawabku dengan terus berjalan menuruni anak
tangga.
Hari ini melelahkan, namun lelah itu telah
teralihkan dengan kebahagiaan yang memenuhi perjalananku.
~~~
Ketika
mentari mulai menampakkan dirinya. Kehidupan dimulai. Seperti yang ayah
katakan. Pagi ini, aku dan ayah bangun lebih awal untuk jogging. Biasanya kita
akan mengelilingi daerah tempat tinggalku, dan ketika kami mulai lelah dan
perut mulai keroncongan, kita akan mempir ke tukang bubur yang ada di dekat
taman.
“Pulang sekarang ya yah, Micha udah nggak
nyaman ini. pengen cepet-cepet mandi.” Ajak Micha.
“Ok.”
Untuk sampai di rumah, aku dan ayah tidak membutuhkan banyak
waktu, karena jaraknya tidak begitu jauh. Warung bubur ini terletak kurang
lebih seratus meter.
Hari
ini waktuku kuhabiskan untuk istirahat di rumah. Entah kenapa hari ini tak ada
niat untuk pergi. Biasanya saat libur seperti ini, aku akan pergi bersama Ave.
Entah untuk jalan-jalan, nongkrong, nonton, belanja, dll.
Aku memilih bersantai di sofa kamarku dengan
novel yang baru saja kubeli. Perlahan aku mulai merasakan kantuk yang luar
biasa. Hingga pada akhirnya aku tertidur.
~~~
“Micha ada di kamar Mik, masuk aja nggak papa.
Tante sama om mau pergi dulu. Nanti kalau kalian lapar, tante udah siapin makan
didapur.” Kata Ibu pada Miky saat mereka bertemu di halaman rumah.
“Iya tante. Hati-hati om, tante.”
Ayah dan ibu pergi setelah mendengar jawaban dari
Miky.
Miky memang sudah dianggap anak sendiri sama ayah
sama ibu. Ya karena aku dan Miky adalah sahabat sejak lama. Dan Miky sudah
tidak canggung lagi kalau ia ada di rumahku.
“Micha..” panggil Miky.
Belum juga ada respon. Miky mengulanginya lagi.
Dan tak ada respon. Kemudian ia masuk ke kamar Micha. Miky mendapati Micha
tengah tertidur di sofa.
“kebiasaan..” ucap Miky pelan sambil
geleng-geleng kepala.
Miky mengambil novel yang masih dipegang Micha
dan meletakkan pada meja belajarnya.
“Pantas saja tembem tidur, dia nggak buka
pesanku.” Kemudian meletakkan HP Micha kembali pada tempatnya.
Alunan musik tiba-tiba berbunyi. Ya itu nada
panggilan Micha. Micha yang mendengarnya kemudian bangun.
“Miky? Sejak kapan kamu disini?” tanya Micha
masih dengan mata yang ia paksakan untuk bangun.
“Baru aja. Angkat tuh!”
Mata Micha langsung terbuka lebar ketika ia
mengetahui siapa yang sedang memanggilnya. Choco.
“Hallo..” jawab Micha.
“Kamu lagi dimana Cha? Aku di depan rumahmu nih.
Aku masuk ya?”
“Apa? Kakak di depan?” tanya Micha tak percaya.
“Iya. Kamu keluar dong!”
“Iya kak bentar.” Jawab Micha kemudian menutup
telephon. Micha bingung. Mukanya masih terlihat bahwa ia baru saja bangun
tidur. Ia berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Menyapukan sedikit
bedak pada wajahnya. Miky yang melihatnya bingung apa yang terjadi. Ia
memutuskan untuk ke dapur mengambil minum.
Micha yang sibuk dengan dunianya, ia lupa bahwa
Miky datang untuk menemuinya. Micha cepat-cepat membuka pintu untuk Choco.
“Hai..” sapa Micha.
“Lama banget sih Cha? Aku disini udah lama tau.”
Protes Choco.
“Sorry, tadi ada sedikit masalah gitu deh.” Jawab
Micha. “Masuk kak!” ajak Micha.
“Ok. Aku nggak ganggu kamu kan?” tanya
“Santai. Masuk kak!” ajakku. “Ayah ibu lagi
keluar. Aku Cuma di rumah sensiri.” Tiba-tiba aku teringat Miky “Dan ada
sahabatku juga.” Lanjut Micha.
“Oh hai..” sapa Miky yang ternyata sedang duduk
di ruang tamu dengan menikmati minumnya.
“Duduk kak! Kenalkan ini Miky, sahabatku. Dan
Mik, kenalin ini Choco.” Kemuadian keduanya slig berjabat tangan dan
memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Yaudah aku naik naik ya Cha. Pengen ngadem.”
Pamit Miky.
“Iya.” Jawabku.
“Duluan ya Chok..”
“Ok.” Jawab Choco.
Kini tinggal aku dan Choco yang tinggal di ruang
tamu. Kita ngobrol panjang lebar. Aku menceritakan mengenai hubunganku dengan
Miky. Aku juga menceritakan tentang ayah ingin kenalan sama dia. Choco ingin
bertemu ayahku, namun dia masih belum yakin. Ia sedikit malu. Kini tak ada lagi
rahasia antara aku dan Choco. Ia menerima ceritaku dengan baik.
“Aku nggak yakin sih ayah pulang jam berapa, tadi
ayah pamitnya sama Miky.”
“Oke. Aku tunggu, hehe.”
“Kakak udah makan? Udah masuk makan siang nih
kak, makan yuk?” ajakku.
“Kamu tahu banget sih Cha kalau aku lapar.”
Kemudian tawa kami memecah sepi.
“Yuk!” sambil menarik tangan Choco dan membawanya
ke dapur. Nihil. Tak ada makanan tersedia. Nggak biasanya ibu seperti ini,
pasti ibu selalu menyiapkan makan sebelum beliau pergi. Ya sepertinya aku tahu
pelakunya. Miky.
“Yah nggak ada makanan. Kakak buat mie mau
nggak?” tawarku.
“Boleh. Kita buat sama-sama aja.” Jawab Choco
semangat.
“Kakak bisa?”
“Kalau cuma masak mie seperti ini mah aku bisa.
Siapin barang-barangnya ya! Aku yang akan masak buat kamu.” Perintah Choco.
“Siap.”
“Udah kan? Sekarang kamu duduk disitu ya!”
Aku menuruti permintaan Choco. Mengamatinya
membuat mie untukku dan untuknya.
“Finish! Ini buat kamu.” Meletakkan sebuah
mangkok di meja untukku. Aromanya membuat perutku semakin lapar.
“Thanks.” Jawabku.
Mie yang dibuat Choco memang hanya mie instan
biasa, namun entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang beda dengan masakannya.
Setelah makanan kita habis, kita mengembalikan ke
dapur sama-sama. Kita berhenti untuk mencuci tangan. Aku mendapat giliran
mencuci tangan lebih awal.
Aku menunggunya
untuk mencuci tangan. Tanpa sadar, aku mendekatinya dan mencium pipi
kirinya dan berkata “Kamu cowok yang berhasil membuatku nyaman setelah Miky.
Makasih kak.” Dengan nada yang lirih. Aku sadar bahwa pipiku saat ini pasti
sedang memerah. Choco terus melanjutkan cuci tangannya tanpa menoleh ke arahku
sedikitpun. Ia tersenyum dengan pandangan kedepan.
Setelah selesai, ia berbalik badan dan
menghadapku. Menatap tajam mataku, sama seperti apa yang selalu Miky lakukan.
Kemudian ia tersenyum kepadaku. “Sama-sama. Makasih kamu udah mau jadi bagian
dari ceritaku.” Dan mencubit hidungku. “Peseeeekkk”
“Aw!!” pekikku. “Sakit nih. Merahkan.” Protesku.
“Itu tak lebih merah daripada setelah kamu
mencium pipiku.” Jawab Choco kemudian berjalan meninggalkan ku dan tersenyum
puas.
‘Oke aku kalah’ kataku dalam hati, kemudian
berjalan di belakangnya.
“Naik yuk kak, gangguin Miky. Pasti dia lagi
tidur di atas.”
“Kamu masih ada perasaan sama dia ya?” tanya Choco.
Aku meceritakan semuanya, tentang hatiku yang
sesungguhnya. Aku pun menvelaskan bahwa aku saat ini sedang berusaha untuk
mengembalikan perasaanku seperti dulu, perasaan sayang sebagai sahabat. Choco
pun berjanji akan membantuku dalam menjalankan perasaanku. Choco yakin bahwa
aku pasti bisa.
Zzz..zzz..zzz..
HP Choco bergetar.
“Mama.. aku angkat dulu ya.”
Aku membiarkan Choco mengankatnya, dan aku
memilih mengambil minum ke dapur. Setelah meletakkan gelas, aku membalikkan
badan. Kudapati Choco berjalan ke arahku. “Aku harus vemput mama belanja. Sopir
mama baru saja pulang karena istrinya melahirkan. Kapan-kapan aku main lagi.”
Pamit Choco.
“Iya. Hati-hati ya, salam buat mamamu.”
“Thanks for today. Salam juga buat orangtuamu.”
“You’re very welcome.”
Aku mengantar Choco ke depan rumah. Saat ia
meninggalkan halamanku, aku baru kembali masuk ke rumahku.
“Mik.. kembaliin piringnya dong! Nanti kena marah
ibu baru tahu rasa kamu.” Kataku setelah mengetahui bahwa Miky meninggalkan
piring di meja atas, padahal ia sedang di kamarku.
“Aku bakalan ngembaliin, tapi kamu harus janji
sama aku kalau kamu nanti bakalan dengerin aku?” tanya Miky.
“Iya. Buruan deh!”
Tak lama Miky telah kembali ke kamarku lagi, dan
ia menagih janjiku.
“Aku ingin cerita ke kamu. Tapi sebelumnya aku
mau kita buat perjanjian dulu.” Kata Miky.
“Oke.” Jawabku semangat.
“Jadi perjanjiannya 1. nggak boleh ada tangis
setelah ini. 2. Apapun yang terjadi, kita akan tetap sama-sama. 3. Harus selalu
jawab jujur.” Velas Miky. “Gimana?”
“Oke.” Sambil memberikan jari manisku untuknya.
“Mulai”
“Jadi sebenernya seminggu setelah kamu ulang
tahun, aku jadian sama cewek. Dia temen sekelas aku, dia juga temen
seorganisasi sama aku. kita mulai deket setelah sebulan kita masuk sekolah.
Jujur, sebenernya aku juga masih bingung dengan keputusanku. Sayangku buat kamu
melebihi apapun. Seolah duniaku mati tanpamu. Entah apa yang membuat seperti
itu. sampai detik ini, rasaku untukmu masih sama seperti dulu. Tak ada yang
berubah sedikitpun. Sebenarnya kau kasihan dengan cewekku, tapi seperti inilah
hidup. Kamu akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, dimana setiap pilihan
yang diberikan selalu ada resiko. Namun aku percaya, dibalik resiko yang ada,
pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Dan akhirnya aku telah memilih pilihan
itu. aku memilih dia. Namanya Zee. Dia hampir sepertimu. Tingkahnya, sifatnya,
semua hampir sepertimu. Tahu nggak Cha? Sejujurnya sakit dengan apa yang aku
putuskan ini, ya mungkin ini resikonya. Sekarang bagaimana dengan kamu cha?
Bagaimana dengan pilihan yang kamu hadapi, apa kamu udah menentukan pilihan?
Jangan terlalu lama berfikir, cepatlah mengambil keputusan. Tapi jangan gegabah
lagi. Aku takut pilihan yang kamu hadapi akan pergi.”
Mendengar setiap kata yang Miky ucapkan membuatku
sakit. Berat rasanya untuk mendengar ceritanya. Seolah aku tak sanggup lagi
menahan air mataku. Pandanganku tak velas, namun aku tetap berusaha menahannya.
“Cha? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Miky.
“Ya aku baik. Bentar, biarkan aku menyusun
kata-kata.” Jawabku bohong, padahal aku sebenarnya sedang berusaha mengatur
nafasku untuk tak membiarkan air mataku tak jatuh.
“Mmm... kaget dengernya. Gimana ya? Kayak
semuannya mendadak banget gitu. Kamu bahkan nggak pernah crita apapun sama aku.
sedikit pun kamu nggak pernah crita. Atau seenggaknya dengan tingkahmu aku bisa
tahu. Tapi kamu tuh enggak. Kamu bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Hey! Aku masih sahabatmu. Aku masih berharap kamu sama aku terus, sahabatan
sampai kita tua nanti. Masih saling bertukar cerita. Oke kita pernah lebih dari
itu, tapi kan kamu tahu aku kayak gimana? Kenapa kamu beda? Seolah aku tuh
orang yang nggak penting lagi tau nggak? Apa emang aku udah bukan sahabatmu
lagi? Kamu sadar nggak sih? Ayah nanyain kamu, beliau kira kita tuh lagi
berantem. Aku harus bohong sama ayah. Sampai kapan aku harus kayak gitu? Sampai
kapan aku harus nahan sakit saat aku denger nama kamu? Ha? Sakit!” aku tak
mampu lagi menahan air mataku. Ku benamkan wajahku pada guling yang saat ini
ada di pangkuanku. Aku menangis sejadinya.
Miky mendekatiku. Masih memperlakukanku seperti
dulu, seperti ketika aku menangis, ia mengelus kepalaku, kemudian membenamkanku
dalam peluknya.
“Maafkan aku. Bukannya aku sudah tak menganggapmu
sebagai sahabat. Aku hanya belum siap untuk menceritakan ini padamu. Aku sudah
menebaknya bahwa kamu akan seperti ini. Maafkan aku Cha.” Sambil terus mengusap
air kepalaku.
“sampai
kapan kamu akan simpan semuanya?” dengan nadaku yang sedikit bergetar.
“Maaf..”
Aku menjauhkan tubuhku dari dia. Kulepas
peluknya.
“Tinggalkan aku sendiri.” Mintaku.
“Enggak, aku nggak akan ninggalin kamu sendiri.
Aku tahu setelah ini pasti kamu akan pusing.” Jawab Miky.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu melakukannya?!”
bentakku. Aku terus duduk dengan memeluk lututku.
“Aku juga pernah merasakan sakit seperti yang
saat ini kamu rasakan, mungkin lebih parah lagi. Dan itu juga gara-gara kamu.
Tapi aku nggak pernah crita, aku selalu bertingkah biasa. Dua kali kamu lakukan
ini, dua kali aku terluka. Ketika aku memaafkanmu, kamu selalu mengulanginya.
Kamu selalu jatuh pada lubang yang sama. Dan sekarang kamu tahu bagaimana
sakitnya kan? Itu belum seberapa. Bukannya aku balas dendam, tapi...”
perkataannya terhenti. “ah susah untuk menvelaskan. Dan aku nggak mau bahas
soal itu lagi. Aku sudah mengubur kenangan itu.”
Aku masih tak ingin membalas perkataan Miky. Aku
masih ingin meluapkan emosiku pada tangisku.
“Sekarang bagaimana dengan pilihanmu? Akankan
kamu akan memilih untuk melangkah atau kamu ingin bertahan disini? Itu yang
harus kamu fikirkan. Jangan gegabah untuk ambil keputusan. Dan untuk ceritaku,
aku tak akan melanjutkan saat ini, aku akan menceritakan suatu saat nanti,
ketika memang keadaan sekiranya baik.” Velas Miky. “Tadi nggak sengaja aku
lihat dan dengar kalian di dapur, waktu kamu mencium dia. Bukannya aku nguping,
tapi aku tak sengaja. Aku tadi mau ngembaliin piring, tapi setelah aku lihat
itu, aku batalkan niatku. Makanya piringnya aku taruh atas.” Lanjutnya.
Aku suah tak mampu mengontrol diriku lagi. Aku
tak mau menjawabnya lagi. Kepalaku terasa sangat berat.
“Mik...” sambil memegangi kepalaku, dan badanku
tak seimbang lagi.
“Sini pelan, aku bantu.” Dengan gegas ia
membantuku untuk tiduran. Ia membenarkan posisiku tidur. “Aku buatin teh ya?”
tawar Miky.
“Enggak. Kamu pulang aja, aku nggak papa kok.”
Bagaimana Miky bisa tahu kalau setelah
nangis/kaget akan sesuatu aku selalu pusing? Aku tak pernah cerita, bahkan dulu
aku selalu menutupi dari dia.
“Kamu istirahat aja, aku akan nemenin kamu.” Kata
Miky. Ia terus saja mengelus rambutku. “Jangan pernah kamu merasa canggung sama
aku. penuhi tiga janjimu tadi.”
Aku tak memperdulikan Miky berbicara apa.
“Mik.. sakit!” rintihku. Tanpa sadar aku meremas
tangan Miky.
“Tahan Cha. Kamu kuat, aku yakin.”
Dengan sabar Miky terus menenangkanku. Ia tahu
bagaimana harus bersikap kalau aku sedang seperti ini. Ia membuatku nyaman,
hingga aku melupakan sakitku dan tertidur.
Ada kata yang selalu ia katakan kalau kau sedang
sakit, “kamu kuat. Sekarang kamu paksa istirahat, nanti kalau tengah malem kamu
nggak kuat, kamu hubungi aku. Aku akan selalu ada buat kamu. Yang penting kamu
cepet sembuh.”
~~~
Miky.
Sejujurnya aku sakit ketika melihat kalian
berduaan di dapur, terlebih ketika aku lihat kamu mencium dia dan berkata
seperti itu. lukaku yang dulu belum tersembuhkan, dan kini kau buat luka lagi.
Aku akan mencoba untuk terus sabar demi kamu. Demi perasaanku yang ada untukmu.
Aku akan selalu mencintaimu, aku tak akan pernah
sekalipun untuk membuang rasa itu. biarkan rasa ini abadi, entah sampai kapan
aku akan merasakan sakit ketika aku melihatmu dengan oranglain.
Aku akan ikhlaskan kamu dengan oranglain kalau
memang diantara kita tak bisa sama-sama lagi, namun aku hanya ingin kita terus
bersama dalam segala keadaan. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku masih
mencintaimu.
~~~
Beberapa hari setelah itu, aku kembali tak
berkomunikasi dengan Miky lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Aku berjanji akan
menghubunginya setelah aku merasa aku siap untuk mendengar ceritanya. Meski aku
tak yakin aku akan siap, aku akan selalu bilang siap. Namun itu hanya di
mulutku, tak pernah sama dengan hatiku.
Kini aku dan Choco semakin dekat.
“Aku ada tempat yang harus kita nikmati, nanti
sore free kan?” tanya Choco Via telephon.
“Iya.” Jawabku dengan senyum yang lebar, karena
aku sadar bahwa Choco menelphonku dengan jarak yang dekat. Dia ada beberapa
meter di depanku.
“Oke setelah pulang sekolah ya.” Sambil
mengedipkan sebelah mata kemudia tersenyum lebar ke arahku.
“Oke!” jawabku kemudian mematikan telphonnya.
Tak lama Choco meninggalkanku begitu saja. Dan
aku meneruskan perjalananku menuju kantin untuk membeli minum.
~~~
“Suka sama tempat ini?” tanya Choco.
“Iya. Aku pernah kesini sebelumnya, namun aku tak
pernah berhenti untuk takjub pada tempat ini. Makasih udah membawaku ke tempat
ini.” kataku.
“Aku tahu tempat ini dulu pernah kamu kunjungi
sama Miky. Ini menjadi tempat favoritmu kan?” tanya Choco.
“Iya, aku cinta banget sama tempat ini.”
“Boleh nggak, tempat ini jadi favorit kita?
Biarkan tempat ini menjadi cerita kita? Biarkan tempat ini menjadi saksi kita?”
kata Choco, “Micha.. tempat ini indah, seindah senyummu. Angin disini sejuk,
seperti kehadiranmu yang selalu membawa kesejukan untukku. Micha.. aku
mencintai segala kekuranganmu dan lebihmu. Micha.. maukah kamu terus ada
disampingku? Sanggupkah kamu menyimpan aku di hatimu?”
Aku terkejut dengan pernyataan Choco. Aku sungguh
tak menyangka bahwa dia akan menyatakan apa yang ia rasakan disini di tempat
yang aku cintai, dan saat ini ketika mentari akan kembali ke peraduanya. Choco
terimakasih, aku tak tahu harus berkata apa, yang velas aku suka. Bersamamu,
aku akan menjawab pilihan itu. Aku memilih untuk melangkah, karena tak ada guna
aku bertahan dengan segala rasa yang terus menyiksaku.
“Iya, aku akan terus mencoba melakukannya.”
Jawabku.
Choco menarikku dalam peluknya. Tak lama aku
melihat Miky datang menghampiri kami.
“Thanks Mik!” kata Choco kemudian memeluknya.
“Iya sama-sama. Jaga Micha baik-baik ya Chok!
Kalau sampai dia kenapa-napa, orang pertama aku cari adalah kamu.” Jawab Miky.
“Mik..” rengekku. Kemudian aku menghampiri Miky
dan memeluknya terang-terangan di depang Choco, aku yakin Choco tahu apa
maksudku. “Maaf untuk selama ini. Aku akan tetap mencintaimu. Thanks for
everything. Akan aku simpan rasa ini, selamanya.” Bisikku pelan.
“Iya sama-sama. Jangan nangis lagi, aku akan
selalu berusaha ada buat kamu. Tapi aku akan jaga jarak, takut ada salah paham
sama Choco. All is well. Baik-baik ya kamu. Jangan ngeyel sama Choco.”bisiknya.
“Longlast ya kalian. Tugasku selesai
Chok, aku balik duluan ya!” pamit Miky. “Daaa”
Setelah
Miky tak terlihat lagi, aku dan Choco duduk. Menikmati sunset di tempat favorit
kami. Sunset pertama dengan choco dalam hubungan ini.
Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Dalam hati aku berdoa “Tuhan.. semoga ini
pilihanku yang benar, tak ada tangis di depan Choco karena Miky. Aku tak mau
melibatkan Choco dalam masalahku bersama Miky. Tuhan.. izinkan aku menyimpan
rasa ini untuk Miky, begitu pula Miky. Aamiin..”
Ku tulis pesan singkat untuk Miky “Simpan rasa
ini J
”
J TAMAT J
Komentar
Posting Komentar